INformasinasional.com, LANGKAT – Peringatan Hari Indonesia Menabung 2025 diJentera Malay, Stabat, kabupaten Langkat baru-baru ini berubah menjadi panggung seruan keras Bupati Langkat, H Syah Afandin SH. Dengan suara tegas, Afandin menegaskan bahwa bangsa ini hanya akan kuat jika rakyatnya membiasakan diri menabung, bukan larut dalam gaya hidup konsumtif yang kian merajalela.
Dengan mengusung tema “Cerdas Menabung untuk Indonesia Emas dan Gemilang (Cemerlang)”, acara ini bukan sekadar seremoni belaka, tetapi momentum untuk menantang masyarakat yang masih lebih sibuk mengejar gengsi ketimbang merencanakan masa depan.
“Mari mulai dari hal kecil untuk menuju pencapaian besar. Menabung bukan sekadar rutinitas, tetapi investasi nyata untuk masa depan yang lebih baik,” kata Afandin, seolah mengingatkan generasi muda yang kini lebih doyan belanja online daripada menyisihkan rupiah untuk tabungan.
Fakta dilapangan menunjukkan budaya menabung di Indonesia masih kalah telak oleh gaya hidup konsumtif. Ditengah gempuran flash sale, cicilan paylater, hingga pesta diskon daring, masyarakat seakan berlomba-lomba menghabiskan uang untuk hal-hal instan.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan, inklusi keuangan memang meningkat, tetapi literasi keuangan masih rendah. Artinya, masyarakat mengenal produk keuangan, namun belum sepenuhnya memahami pentingnya menabung atau mengelola uang dengan bijak.
Kondisi ini menjadi ironi ditengah ambisi besar Indonesia menuju Indonesia Emas 2045. Tanpa budaya menabung, mimpi besar itu bisa runtuh dihadapan realitas utang konsumtif yang menjerat masyarakat dari desa hingga kota.
Bupati Langkat pun tidak segan menohok fenomena sosial ini. “Jangan biarkan menabung hanya jadi jargon tahunan. Hentikan mental instan, bangun mental tabungan. Kalau masyarakat masih terjebak hidup gengsi dan konsumtif, kita hanya akan jadi penonton dalam peradaban emas 2045,” tandas Syah Afandin
Kepala Bagian Perekonomian Setdakab Langkat, Indri Nugraheni SE MM Akt, menyebut, peringatan Hari Indonesia Menabung bukan hanya sekadar seremoni nasional, melainkan sarana edukasi keras bagi masyarakat. “Momentum ini adalah titik balik kesadaran finansial. Jika kita tidak disiplin, jangan harap kesejahteraan bisa tercapai,” sebutnya.
Meski digaungkan dengan lantang, realitas masyarakat tidak bisa dipungkiri. Sejumlah warga mengaku menabung bukan perkara mudah ditengah tekanan ekonomi.
“Jangankan menabung, untuk makan sehari-hari saja kadang kami masih kesulitan. Harga-harga naik, tapi pendapatan tetap segitu-gitu saja. Jadi bagaimana bisa menabung?” keluh Sulastri (42), seorang ibu rumah tangga asal Stabat.
Namun, ada pula warga yang membuktikan bahwa disiplin menabung tetap bisa dilakukan meski dengan penghasilan pas-pasan.
“Saya tukang becak, penghasilan tidak seberapa. Tapi tiap hari saya sisihkan dua ribu sampai lima ribu rupiah. Lama-lama terkumpul. Dari situ bisa buat kebutuhan sekolah anak. Jadi memang menabung itu soal niat dan disiplin, bukan menunggu kaya dulu,” ujar Abdul Rahman (50), warga Pangkalan Brandan dengan bangga.
Kisah kontras ini menegaskan bahwa menabung bukan mustahil, meski kondisi ekonomi berat. Butuh kesadaran, komitmen, dan keberanian melawan godaan konsumtif yang terus menghantui masyarakat.
Dari Langkat untuk Indonesia
Pesan dari Stabat ini sesungguhnya adalah pesan untuk seluruh bangsa. Langkat ingin menjadi contoh bahwa budaya menabung bisa dimulai dari lingkup kecil, keluarga, sekolah, hingga komunitas desa.
Syah Afandin menegaskan, membiasakan menabung sejak dini ibarat menanam pohon: semakin cepat ditanam, semakin kokoh dan rimbun hasilnya. “Menabung itu langkah kecil dengan dampak besar. Dari uang receh yang disisihkan hari ini, lahir masa depan yang jauh lebih cerah,” kaya Syah Afandin lagi.
Namun, pertanyaan besar masih menggantung, mampukah seruan ini benar-benar menggugah masyarakat untuk berubah, atau hanya akan hilang tertiup angin setelah lampu acara padam? Tanpa langkah konkret, budaya menabung akan terus kalah oleh budaya paylater yang semakin mengikat generasi muda.
Hari Indonesia Menabung 2025 ini seharusnya bukan sekadar selebrasi tahunan, melainkan alarm keras bahwa tanpa disiplin finansial, cita-cita Indonesia Emas bisa berubah menjadi sekadar utopia.(Misno)