INformasinasional.com, Tapanuli Selatan — Tapanuli Selatan kembali digulung bencana. Hujan tanpa henti sejak Senin pagi, 24 November, berubah menjadi malapetaka besar, sungai meluap, tebing runtuh, dan 11 kecamatan porak-poranda. Sedikitnya 15 warga meregang nyawa, sementara 3.000 kepala keluarga berhamburan menyelamatkan diri ditengah gelap dan deru arus banjir.
BPBD Tapsel pada Rabu (26/11/2025) menyebut rentetan wilayah terdampak membentang luas: dari Sipirok hingga Batangtoru, dari Angkola Barat hingga Muaratais. Desa-desa terputus seperti pulau kecil, dikepung lumpur dan bongkahan tanah yang merosot dari lereng-lereng basah. Jalan raya berubah menjadi parit raksasa, sebagian longsor, sebagian lainnya tertimbun kayu dan batu.
Jumlah korban terus bergerak naik. Data terbaru menunjukkan 15 orang meninggal, 1 di Sipirok, 1 di Angkola Barat, dan 13 korban di Batangtoru, wilayah yang paling parah diterjang longsor. Seorang warga Sipirok yang terseret arus kritis, sementara di Angkola Barat satu warga remuk tertimpa pohon tumbang. Batangtoru mencatat 56 korban luka, dari patah tulang hingga luka sobek akibat dihantam material longsor.
Dipusat komando BPBD, radio komunikasi tak berhenti berdering. “Curah hujan masih tinggi. Beberapa titik tak bisa dijangkau, akses terputus total,” ujar Kalaksa BPBD Tapsel, Zulkarnaen Siregar, menggambarkan suasana lapangan yang ia sebut “dinamis dan berbahaya”.
Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan menetapkan status tanggap darurat 14 hari. SK bupati sedang difinalisasi, namun operasi penyelamatan berjalan tanpa menunggu tinta tanda tangan kering. TNI, Polri, Basarnas, Satpol PP, hingga Dishub bergerak membelah banjir, membawa perahu karet, alat berat, hingga gergaji mesin untuk membuka jalur yang tersumbat pohon tumbang.
Kebutuhan dilapangan menggunung: 3.000 paket sembako, ratusan family kit, kitchen kit, selimut, tenda keluarga, kasur lipat, hingga perahu karet tambahan untuk menjangkau desa-desa yang kini hanya dapat dikunjungi lewat air. Tim pembersihan juga membutuhkan 10 chainsaw dan 100 paket alat kebersihan untuk mempercepat pemulihan.
Hujan belum berhenti. Awan berat menggantung dilangit Tapanuli Selatan, menyisakan ancaman banjir susulan dan pergerakan tanah. BNPB mengimbau warga tetap waspada, tidak kembali ke rumah sebelum dinyatakan aman. “Kondisi cuaca diwilayah pegunungan Tapsel tidak stabil,” tulis Pusdalops BNPB dalam peringatan terbarunya.
Dibanyak lokasi, warga bertahan ditenda sementara gelap, lembap, dingin malam pegunungan merayap. Ditengah trauma dan kehilangan, pemerintah berupaya membuka akses, menyuplai logistik, dan mencari yang masih mungkin diselamatkan.
Bencana ini belum selesai. Tapanuli Selatan masih berjaga dalam kecemasan, menunggu cuaca mereda, sementara lumpur dan duka belum juga surut.*






Discussion about this post