INformasinasional.com, Pemalang —
Banjir memang telah surut dari Pemalang Selatan. Namun lumpur, sisa murka alam masih bercokol tebal, mengunci denyut aktivitas warga. Jalan lingkungan tertutup, sekolah lumpuh, dan fasilitas publik tersandera endapan lumpur setinggi lutut orang dewasa.
Ditengah situasi itu, Unit Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar) Pemalang turun langsung ke medan terberat, lumpur, bau, dan sisa kepanikan pascabencana.
Puluhan personel Satpol PP melalui Damkar dikerahkan sejak Jumat (6/1/2026) untuk membersihkan wilayah terdampak. Armada pemadam dengan tekanan air tinggi meraung, menyapu sisa banjir yang tak bisa diselesaikan dengan sapu dan tenaga warga semata.
Kepala Bidang Damkar dan Penyelamatan Pemalang, Nurokhman, menegaskan kehadiran Damkar bukan sekadar simbol, melainkan kerja nyata dilapangan.
“Damkar senantiasa hadir dan ada. Kami merespons cepat laporan warga, bersinergi dengan pihak terkait, membantu dan menyelesaikan persoalan serta penyelamatan masyarakat Pemalang,” kata Nurokhman saat memimpin pembersihan lumpur di Desa Bulakan.
Satu regu pembersihan masing-masing beranggotakan lima personel disebar ketitik-titik dengan tingkat kerusakan paling parah. Damkar tak bekerja sendiri. Operasi ini melibatkan tim terpadu lintas instansi.
“Sebanyak lima personel Damkar, lima anggota BPBD, delapan Linmas, serta unsur lain, total 31 personel kami kerahkan bersama unit mobil pemadam,” katanya.
Ketebalan lumpur menjadi tantangan utama. Disejumlah lokasi, endapan mencapai 20 hingga 40 sentimeter, menutup akses jalan dan merusak sarana pendidikan. Buku pelajaran, dokumen penting, hingga perangkat elektronik tak terselamatkan.
Desa Penakir dan Sima disebut sebagai wilayah dengan dampak paling dominan. Namun pembersihan diprioritaskan di Desa Bulakan, Kecamatan Belik, kawasan yang lumpuh total pascabanjir.
“Sekolah-sekolah cukup berat terdampaknya. Banyak fasilitas pendidikan terendam lumpur,” kata Nurokhman.
Damkar menetapkan skala prioritas. Fasilitas umum dan pelayanan publik didahulukan, jalan, sekolah, dan ruang bersama. Sementara rumah warga, pemerintah meminta partisipasi mandiri masyarakat.
“Kami fokuskan dulu fasilitas umum. Untuk rumah tinggal, warga kami minta bersabar dan melakukan pembersihan secara mandiri,” katanya lagi.
Ditengah lumpur yang belum sepenuhnya mengering, kehadiran Damkar menjadi penanda: negara belum sepenuhnya pergi dari lokasi bencana.
Reporter: Ragil Surono






Discussion about this post