INformasinasional.com, Dairi – Siang itu, Senin (9/2/2026), suasana di SMK Swasta HKBP Sidikalang masih seperti biasa. Bel berbunyi, siswa makan siang, lalu kembali kekelas. Tak ada yang menyangka, beberapa jam kemudian, malam berubah menjadi mimpi buruk.
Sekitar pukul satu dini hari, satu per satu siswa terbangun dengan perut melilit, mual hebat, kepala berputar, bahkan sesak napas. Mereka yang semula tidur nyenyak, kini menggigil menahan sakit. Dugaan mengarah pada satu hal, menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang mereka santap siang sebelumnya.
Yohani Hutabarat, siswi kelas XI, masih terlihat pucat saat ditemui dibangsal rumah sakit. Suaranya pelan, namun ceritanya membuat siapa pun tercekat. “Mulai terasa sekitar jam satu pagi. Perut sangat sakit, mual, dan kepala pusing sekali,” katanya.
Pagi harinya, Selasa (10/2/2026), sekolah tak lagi seperti ruang belajar. Ia berubah menjadi ruang tunggu darurat. Satu per satu siswa meminta izin pulang, sebagian lainnya bahkan tak sanggup berdiri. Ambulans datang silih berganti. Suara sirene memecah udara Sidikalang yang biasanya tenang. Para guru berlarian, menggiring siswa yang lemas menuju kendaraan darurat. Di RSUD Sidikalang, ruang perawatan mendadak penuh.
Guru SMK HKBP, Elpro Simanullang, menyebut sedikitnya 27 siswa harus menjalani perawatan intensif. “Kami langsung membawa mereka ke Rumah Sakit begitu keluhan makin berat. Tidak mungkin ditangani disekolah,” katanya.
Gejala yang muncul hampir seragam, namun dengan tingkat keparahan berbeda, diare hebat, muntah-muntah, pusing, tubuh lemas, hingga sesak napas seperti yang dialami Anna Situmorang. Beberapa siswa terlihat harus dipasangi infus untuk mencegah dehidrasi.
Hingga berita ini diturunkan, penyebab pasti insiden itu masih menjadi tanda tanya. Pihak sekolah memilih fokus pada keselamatan siswa, sementara tim medis bekerja memastikan tidak ada korban yang jatuh kekondisi kritis.
Diluar Rumah Sakit, kegelisahan orang tua dan masyarakat mulai memuncak. Program Makanan Bergizi Gratis yang digadang-gadang sebagai tulang punggung perbaikan gizi anak sekolah, justru kini terseret kepusaran dugaan keracunan massal.
Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Kabupaten Dairi, Pahlawan Nasution, belum memberikan keterangan resmi. Masyarakat menunggu penjelasan, apakah ini sekadar kelalaian, atau ada persoalan lebih besar dalam rantai distribusi makanan sekolah.
Dibangsal Rumah Sakit, kakangan siswa terbaring lemah. Sementara diluar, kepercayaan terhadap program yang seharusnya menyehatkan, mulai terasa retak.
Insiden ini bukan sekadar soal makan siang yang berujung sakit perut, melainkan soal kepercayaan, keselamatan, dan tanggung jawab.(misn’t)






Discussion about this post