INformasinasional.com, Panyabungan – Dihalaman Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Panyabungan, Kamis (12/2), yang dibagikan bukan sekadar tong sampah dan bibit durian. Yang ditanam adalah gagasan: bahwa sekolah tak lagi cukup hanya mencetak nilai, tetapi harus menumbuhkan kesadaran.
Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Sumatera Utara bersama DLH Kabupaten Mandailing Natal menyerahkan bantuan tong sampah, fasilitas pengolahan kompos, serta sejumlah bibit durian dalam rangka sosialisasi program nasional Adiwiyata, sebuah program yang tak main-main dalam menakar kepedulian lingkungan disekolah.
Ditengah seremoni yang bersahaja, Kepala MAN 1 Panyabungan, Hj. Salbiah S.Ag., MM, berbicara dengan nada optimistis. Penunjukan sekolahnya sebagai lokasi sosialisasi Adiwiyata, kata dia, bukan sekadar seremoni administratif, melainkan suntikan motivasi.
“MAN 1 Panyabungan akan kita buat nyaman dan berbudaya lingkungan. Kebersihan dan keasrian bukan hiasan, tapi kebutuhan agar proses belajar-mengajar berjalan dengan nyaman bagi siswa dan guru,” katanya.
Namun ambisi itu tak berhenti pada slogan. Disekolah ini, sampah plastik tak lagi berakhir ditempat pembuangan. Ia diolah menjadi paving block keras, fungsional, dan sudah digunakan dilingkungan sekolah. Sebuah praktik kecil yang menyentil kebiasaan besar.
Salbiah menegaskan, pendidikan lingkungan bukan sekadar teori dalam lembar modul. “Kami menanamkan nilai kepedulian terhadap lingkungan sejak dini. Bukan hanya diajarkan, tetapi dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Program Adiwiyata memang menuntut lebih dari sekadar taman hijau dan slogan ramah lingkungan. Ia menguji konsistensi kebijakan berbasis sekolah, partisipasi warga sekolah, hingga inovasi pengelolaan sampah. Dibanyak tempat, program ini kerap berhenti dibaliho dan seremoni. Di MAN 1 Panyabungan, setidaknya, ada upaya untuk melampauinya.
Kasi DLHK Sumut, M. Nur Hasibuan, yang hadir langsung menyerahkan bantuan sekaligus menjadi pemateri sosialisasi, tak menyembunyikan apresiasinya. Ia berharap langkah yang dirintis sekolah ini bisa berbuah pengakuan formal dari pusat.
“Kita berharap sekolah ini memperoleh sertifikat penilaian Adiwiyata dari kementerian nantinya,” katanya.
Sertifikat memang penting. Tetapi yang lebih penting adalah perubahan perilaku. Tong sampah yang tertata, kompos yang terolah, dan bibit durian yang tumbuh perlahan dihalaman sekolah adalah simbol bahwa pendidikan lingkungan tak bisa instan. Ia butuh waktu, kesabaran, dan konsistensi.
Di Mandailing Natal, dari sebuah madrasah negeri, pelajaran itu sedang ditanam. Bukan hanya untuk hari ini, tapi untuk musim yang akan datang.
Penulis: Henri






Discussion about this post