INformasinasional.com, Aceh Tengah – Tanah di Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, tak lagi sekadar retak. Ia menganga. Lubang raksasa yang sejak dua dekade lalu menggerogoti perut bumi kini kembali menunjukkan taringnya. Longsoran terus meluas dan jalan alternatif yang baru dibuka dua bulan lalu tinggal menunggu giliran.
“Laporan tiga hari lalu, kira-kira tinggal 10 meter lagi dari jalan alternatif,” kata Kepala Dinas Kominfo Aceh Tengah, Mustafa Kamal, Rabu (18/2/2026).
Sepuluh meter. Jarak yang bagi kendaraan mungkin sekejap, tapi bagi warga yang menggantungkan hidup pada akses itu, bisa berarti terisolasi. Jalan alternatif tersebut menjadi urat nadi penghubung Simpang Balik di Bener Meriah dengan Blang Mancung di Aceh Tengah.
Ia dibuka darurat setelah jalan utama putus ditelan longsor. Kini, jalur penyelamat itu justru dibayangi ancaman yang sama.
Video yang beredar memperlihatkan lereng yang runtuh seperti kue lapis yang teriris pelan namun pasti. Material tanah terus merosot, mengarah ke simpang antara jalur utama dan alternatif. Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah pun mengimbau warga agar menghindari lokasi dan menggunakan jalur alternatif lain,yang jaraknya lebih jauh dan tak sepenuhnya ramah kendaraan.
Pemerintah memasang batas aman seadanya, sembari menunggu langkah teknis dari Kementerian Pekerjaan Umum. Di sisi lain, para petani cabai yang lahannya berada disekitar zona rawan diminta waspada. “Kami mengimbau petani menjaga batas aman,” kata Mustafa.
Namun imbauan tak selalu mampu membendung realitas. Tanah di Kampung Bah bukan sekadar labil, ia aktif bergerak.
Kepala Pelaksana BPBD Aceh Tengah, Andalika, pada Januari lalu menjelaskan bahwa lubang raksasa ini bukan fenomena baru. Benihnya sudah ada sejak awal 2000-an. Pergerakan tanah terdeteksi sejak 2004 dan terus berlangsung bertahap, nyaris tanpa jeda.
Pada 2006, longsoran memutus akses Blang Mancung–Simpang Balik. Sejak itu, kawasan ini hidup dalam ancaman yang berulang.
Penelitian Dinas ESDM Aceh menunjukkan luas longsoran kini mencapai 27.000 meter persegi dan terus mendekati jalan lintas.
Kajian geologi dan survei geofisika yang dilakukan bersama BPBD pada 2022 menyimpulkan bahwa tanah di Kampung Bah berada pada lapisan permukaan dengan zona jenuh air, didominasi material vulkanik yang mudah meloloskan air.
Singkatnya: tanahnya rapuh, airnya melimpah, dan gravitasi tak pernah berkompromi.
“Wilayah longsoran tanah di Kampung Bah dikategorikan sebagai zona tinggi rawan pergerakan tanah, sehingga memerlukan penanganan struktural dan non-struktural segera dan berkelanjutan,” kata Andalika.
Masalahnya, “segera” dalam bahasa birokrasi kerap berarti menunggu anggaran, menunggu kajian lanjutan, menunggu koordinasi lintas instansi. Sementara tanah tak pernah menunggu.
Didataran tinggi Gayo, bumi sedang bergerak. Dan bila 10 meter itu runtuh, bukan hanya jalan yang terputus,melainkan akses ekonomi, distribusi hasil pertanian, hingga mobilitas ribuan warga yang akan kembali tercekik.
Lubang itu terus menganga. Dan waktu, seperti tanah di Ketol, kian menipis.(Misn’t)






Discussion about this post