INformasinasional.com, Medan — Angka kematian akibat banjir dan longsor di Sumatera Utara terus menanjak, seolah tak mengenal jeda. Per Rabu pagi (18/2/2026) pukul 08.00 WIB, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat 376 orang tewas dan 40 lainnya masih dinyatakan hilang.
“Data sementara meninggal dunia 376 orang, hilang 40 orang,” demikian laporan resmi BPBD Sumut yang disampaikan Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik Diskominfo Sumut, Porman Mahulae.
Angka itu bukan sekadar statistik. Ia adalah potret getir ribuan keluarga yang kehilangan orang tua, anak, saudara bahkan seluruh tempat berpijak.
Tapteng dan Tapsel Jadi Episentrum Duka
Dari 19 kabupaten/kota terdampak, dua wilayah mencatat korban paling besar.
Di Kabupaten Tapanuli Tengah, korban meninggal dunia mencapai 131 orang, dengan 33 lainnya masih hilang, angka tertinggi sejauh ini. Disusul Kabupaten Tapanuli Selatan dengan 93 korban jiwa dan 4 orang hilang.
Kota pesisir seperti Kota Sibolga pun tak luput dari maut: 55 orang dilaporkan tewas. Di Kabupaten Tapanuli Utara, 36 orang meninggal dan 2 lainnya hilang.
Sementara itu, diwilayah yang menjadi penyangga ibu kota provinsi, Kabupaten Deli Serdang mencatat 17 korban jiwa dan Kabupaten Langkat 16 korban jiwa. Bahkan Kota Medan yang kerap dianggap lebih siap menghadapi banjir tahunan ikut menyumbang 12 korban tewas.
Daftar duka itu terus memanjang,
Kabupaten Humbang Hasundutan 10 tewas, 1 hilang. Kabupaten Pakpak Bharat 2 tewas.
Kota Padangsidimpuan 1 tewas.
Kabupaten Nias 2 tewas.
Kabupaten Nias Selatan 1 tewas.
1,8 Juta Terdampak, Ribuan Mengungsi.
Bukan hanya korban jiwa yang membubung. BPBD mencatat 1.803.715 orang terdampak. Sebanyak 4.638 orang masih bertahan dipengungsian, hidup dalam ketidakpastian, bergantung pada bantuan logistik dan relawan.
Lima orang dilaporkan mengalami luka-luka. Namun angka itu bisa berubah sewaktu-waktu. Proses evakuasi disejumlah titik masih berlangsung. Medan yang terjal, akses terputus, serta cuaca yang belum sepenuhnya bersahabat menjadi tantangan tersendiri.
Data Fluktuatif, Korban Diperkirakan Bertambah
BPBD menegaskan data korban masih fluktuatif. Proses pencarian dan validasi terus dilakukan. Dengan masih puluhan orang hilang dan sejumlah wilayah belum sepenuhnya terjangkau, potensi bertambahnya korban jiwa tetap terbuka.
Tragedi ini menjadi salah satu bencana terburuk dalam sejarah mutakhir Sumatera Utara. Ia menyisakan pertanyaan yang tak kalah deras dari arus banjir, sejauh mana mitigasi berjalan? Mengapa longsor kembali menelan korban diwilayah rawan? Dan kapan alarm peringatan dini benar-benar bekerja sebelum tanah runtuh lebih dulu?
Ditanah yang pernah dijuluki subur dan elok itu, kini yang tersisa adalah lumpur, reruntuhan, dan deretan nisan baru.(Misn’t)






Discussion about this post