INformasinasional.com, JAKARTA — Undangan makan malam dan silaturahmi yang digelar Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Selasa (3/3/2026), tak sepenuhnya berbalas. Ditengah upaya merajut simbol rekonsiliasi lintas presiden, satu kursi penting dipastikan kosong, Megawati Soekarnoputri.
Ketua Umum PDIP itu tak hadir. Alasannya? Agenda internal partai yang disebut sudah dijadwalkan sejak lama di Bali.
“Ibu Mega berhalangan karena sedang mengikuti rangkaian acara internal yang sudah direncanakan sejak minggu lalu di Bali,” kata Ketua DPP PDIP Deddy Yevri Sitorus saat dikonfirmasi wartawan, Selasa.
Menurut Deddy, Megawati baru akan kembali ke Jakarta akhir pekan ini. Soal kapan undangan Istana dikirim dan diterima, ia mengaku tak tahu persis. “Saya baru dengar undangannya tadi waktu rapat DPP dari Pak Sekjen. Kapan undangannya sampai, saya pribadi kurang tahu,” katanya.
Jawaban yang terdengar administratif. Tapi dipanggung politik nasional, absennya Megawati tak mungkin dibaca sesederhana benturan jadwal.
Jamuan Rekonsiliasi
Sebelumnya, Prabowo mengundang para mantan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia untuk menghadiri diskusi dan silaturahmi di Istana pada Selasa malam.
Nama-nama yang disebut menerima undangan antara lain Presiden ke-7 Joko Widodo, Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono, dan Megawati sendiri.
Pertemuan itu digadang-gadang sebagai ajang merawat kesinambungan kepemimpinan nasional, sebuah panggung simbolik yang sarat pesan politik, stabilitas, persatuan, dan kesinambungan arah negara.
Namun politik tak hanya soal simbol. Ketidakhadiran Megawati, yang dikenal sebagai figur sentral dalam konstelasi kekuasaan pasca-reformasi, memunculkan tafsir yang lebih dalam. Apalagi PDIP bukan sekadar partai biasa. Ia adalah partai dengan kursi signifikan diparlemen dan basis massa ideologis yang solid.
Isyarat atau Sekadar Kebetulan?
Ditengah dinamika hubungan antara PDIP dan kekuasaan eksekutif, publik tentu bertanya, apakah ini sekadar persoalan jadwal, atau ada pesan politik yang ingin ditegaskan?
Deddy tak memberi ruang spekulasi. Ia menegaskan absennya Megawati murni karena agenda internal yang telah terjadwal. Namun dalam politik, timing adalah segalanya. Dan undangan Istana, yang bahkan pengurus DPP mengaku baru mendengarnya saat rapat, menyisakan tanda tanya tersendiri.
Istana belum memberikan keterangan rinci terkait respons para undangan lainnya. Tapi satu hal jelas, pertemuan yang diniatkan sebagai simbol kebersamaan itu kini kehilangan satu figur kunci. Direpublik yang politiknya kerap dibaca lewat gestur dan kehadiran, kursi kosong bisa lebih nyaring daripada seribu pidato.(misn’t)






Discussion about this post