INformasinasional.com, Takengon — Pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia bahwa stok bahan bakar minyak nasional hanya cukup untuk 20 hari memicu efek domino didataran tinggi Tanah Gayo, Aceh. Warga di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah dilanda kepanikan. SPBU diserbu. Antrean kendaraan mengular hingga lima kilometer.
Sejak tiga hari terakhir, pemandangan disejumlah stasiun pengisian bahan bakar di Kota Takengon berubah drastis. Sepeda motor, mobil pribadi hingga mobil bak terbuka berjejalan menunggu giliran. Banyak warga bahkan membawa jeriken dan botol plastik, menimbun bensin untuk cadangan.
Lonjakan antrean paling parah terjadi di SPBU Paya Ilang, SPBU Kemili, dan SPBU Nunang Antara. Dititik-titik ini, antrean kendaraan membentuk ular panjang hingga beberapa kilometer.
Warga yang mengantre harus bersabar hingga empat jam hanya untuk mengisi tangki.
“Cukup parah. Antreannya sampai lima kilometer. Tadi pagi bapak saya mulai antre pukul 08.00 dan baru selesai pukul 12.15,” kata Rahmy Zulmaulida, pemerhati sosial dari UIN Sultanah Nahrasiah Lhokseumawe, Kamis (5/3/2026).
Rahmy menilai gelombang panic buying ini bukan sekadar reaksi spontan terhadap pernyataan pejabat pusat. Ada trauma kolektif yang belum sembuh di Tanah Gayo.
Pada 24–27 November 2025, kawasan ini dilanda banjir besar yang memicu longsor dan memutus akses jalan keluar masuk wilayah. Selama hampir dua pekan, Aceh Tengah dan Bener Meriah sempat seperti terisolasi. BBM langka. Bahan pokok menipis.
Trauma itulah yang kini seperti terbangun kembali.
“Warga masih ingat betul bagaimana sulitnya mendapatkan BBM setelah banjir besar. Begitu mendengar isu stok nasional hanya 20 hari, kepanikan langsung muncul,” kata Rahmy.
Kepanikan itu bahkan meluas keluar wilayah. Warga Tanah Gayo mulai “berburu BBM” hingga kekabupaten lain.
Sebagian pengendara turun melalui jalur Bireuen, sebagian lagi menuju Aceh Utara, membawa jeriken dengan sepeda motor atau mobil bak terbuka untuk diisi di SPBU daerah lain.
Fenomena ini tidak hanya didorong kebutuhan kendaraan pribadi. Banyak pengecer tidak resmi ikut memborong BBM untuk dijual kembali dikampung halaman mereka didataran tinggi.
Situasi semakin liar ketika isu global ikut menyulut kecemasan. Sebagian warga bahkan mulai menimbun elpiji 3 kilogram dan bahan pokok seperti beras serta minyak goreng.
Ada yang khawatir konflik Timur Tengah akan meluas hingga memicu Perang Dunia III dan mengganggu pasokan energi. “Sekarang ada yang datang ke pangkalan elpiji membeli lebih dari satu tabung. Katanya untuk berjaga-jaga kalau nanti langka,” kata Rahmy menirukan alasan warga.
Jika kepanikan ini tak segera diredam, bukan tak mungkin krisis psikologis berubah menjadi krisis distribusi nyata.
Di Tanah Gayo, satu kalimat dari pusat ternyata cukup untuk membuat ribuan orang berbondong-bondong mengejar bahan bakar minyak, seolah hari esok benar-benar kehabisan energi.(Misno)






Discussion about this post