INformasinasional.com, LANGKAT— Pagi yang tenang di Pendopo Jentera Malay, Rumah Dinas Bupati Langkat, Stabat, Jumat (15/4/2026), terasa berbeda. Diantara langkah yang tertata dan doa yang lirih, 398 Jamaah Calon Haji (JCH) Kabupaten Langkat dilepas menuju perjalanan suci yang telah lama dinantikan.
Bupati Langkat H Syah Afandin SH memimpin prosesi tepung tawar, suatu tradisi yang tak sekadar simbolik, tetapi sarat makna restu, harapan, dan perlindungan. Diruang itu, waktu seakan melambat, memberi tempat bagi hati untuk bersiap melepas dan merelakan.
Tema “Melangkah Bersama Menuju Ridha Allah Mempererat Ukhuwah Antara Jamaah Untuk Mencapai Kemabruran” tidak hanya terucap sebagai rangkaian kata, melainkan terasa hidup dalam suasana. Ia menjelma menjadi semangat kebersamaan, bahwa perjalanan ini bukan semata tentang diri, melainkan tentang saling menjaga, saling menguatkan.
Dalam tutur kata yang lembut, Syah Afandin mengingatkan bahwa haji adalah perjalanan yang menuntut kesungguhan lahir dan batin. Ia tidak meninggikan suara, namun pesannya mengendap dalam.
“Ibadah ini memerlukan kesiapan fisik. Jaga kesehatan, jaga stamina. Perbanyak belajar agar setiap rukun dapat dijalankan dengan sempurna,” kata Syah Afandin, perlahan.
Namun lebih dari itu, Syah Afandin menitipkan sesuatu yang tak kasat mata, tetapi paling menentukan, keikhlasan.
Ia mengajak para jamaah untuk bersabar dalam setiap langkah, melapangkan hati dalam setiap ujian, dan menghidupkan doa ditempat-tempat yang diyakini penuh keberkahan.
Disela pesannya, terselip harapan sederhana namun dalam, agar Langkat tetap dalam lindungan, dan agar amanah kepemimpinan dapat dijalankan dengan sebaik-baiknya.
Tak hanya melepas, pemerintah daerah juga memastikan yang ditinggalkan tetap dalam perhatian. Instruksi kepada para camat menjadi penegasan bahwa perjalanan spiritual ini tidak boleh dibayangi kecemasan keluarga dirumah.
Ada 398 jamaah tahun ini terbagi dalam dua kelompok terbang, Kloter 2 dan Kloter 4 yang akan diberangkatkan pada 22 dan 24 April 2026. Mereka datang dari latar yang beragam, namun dipersatukan oleh satu panggilan yang sama.
Diantara mereka, ada yang telah menunggu puluhan tahun, seperti Adnan Suwandi (82) dan Yuslinar Ilyas (84), yang membawa keteguhan usia menuju kesempurnaan rukun Islam.
Ada pula yang masih begitu muda, Muhamad Aufa Ammar (22) dan Putri Amelia Ainun Habibie (21) melangkah dengan semangat awal yang bersih dan penuh harap.
Acara berlangsung tanpa hiruk-pikuk. Yang terdengar justru bisikan doa, yang terasa justru getar keharuan. Disetiap peluk perpisahan, tersimpan harapan yang tak terucap panjang, agar perjalanan ini dimudahkan, agar kembali dalam keadaan utuh, dan agar pulang membawa kemabruran.
Dititik itu, Langkat tidak sekadar melepas keberangkatan. Ia sedang menitipkan iman, harapan, dan doa kepada mereka yang akan menjejakkan kaki ditanah suci, untuk kemudian kembali menyalakan cahaya kebaikan ditanah asalnya.(Misno)






Discussion about this post