INformasinasional.com, Surabaya — Pagi masih muda ketika arus Kali Tebu perlahan membawa kisah lama: plastik yang tersangkut di akar, serpihan rumah tangga yang lelah, dan sisa-sisa peradaban yang tercecer.
Namun hari itu berbeda. Di antara riak air yang tak lagi jernih, sebuah intervensi kecil menyalakan harapan besar.
Dalam waktu 24 jam sejak pemasangan trashboom, tim dari MOZAiK Ecoton berhasil mengangkat 907 kilogram sampah dari aliran Kali Tebu.
Angka itu bukan sekadar statistik, ia adalah potret nyata dari beban sungai yang selama ini dipikul diam-diam.
Sungai yang Lama Menjerit
Kali Tebu, salah satu sungai tua di Surabaya, telah bertahun-tahun menjadi saksi bisu tekanan pencemaran. Aktivitas domestik dan padatnya permukiman menjadikannya jalur tak resmi bagi limbah menuju laut.
Sampah plastik, terutama, menjadi ancaman paling nyata, mengalir tanpa kendali, menuju ekosistem yang lebih luas.
Disinilah peran MOZAiK (Mission for Zero Plastic Leakage) menjadi krusial. Melalui kolaborasi multipihak, mereka menghadirkan solusi konkret: pemasangan trashboom sebagai penahan sampah di segmen tengah sungai, mencakup wilayah Tanah Kali Kedinding hingga Sidotopo Wetan.
Dari total sampah yang terangkut, 757 kilogram merupakan sampah anorganik, sementara 150 kilogram sisanya adalah organik.
Data ini tak hanya mencerminkan jenis limbah, tetapi juga memperlihatkan pola konsumsi masyarakat yang perlu segera dibenahi.
Koordinator tim evakuasi, Heri Purnomo, menyebut bahwa temuan ini menjadi pijakan awal untuk memahami karakteristik sampah di Kali Tebu.
“Ini bukan sekadar pengangkutan, tapi pembacaan kondisi sungai yang sesungguhnya,” ujarnya, Jumat, (Sabtu/25).
Program ini rencananya akan diperluas dengan pemasangan trashboom permanen, seiring pembentukan satuan tugas khusus yang akan menjaga keberlanjutan upaya ini.

Namun cerita tidak berhenti dipengangkutan. Sampah yang telah dikumpulkan melewati dua tahap penyortiran.
Pertama, pemisahan berdasarkan jenis material hingga mencapai puluhan kategori. Kedua, pemilahan warna untuk meningkatkan kualitas daur ulang.
Setelahnya, sampah diproses melalui metode baling (pemadatan) sebelum disalurkan ke Bank Sampah Induk Surabaya.
Disinilah sampah mendapatkan kesempatan kedua, bukan sebagai limbah, tetapi sebagai sumber daya.
Program ini mendapat dukungan dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya, menandai pentingnya sinergi antara pemerintah, komunitas, dan masyarakat.
Tak hanya itu, pendekatan berbasis komunitas juga dijalankan, mulai dari edukasi pengelolaan sampah hingga program Sekolah Zero Waste MOZAiK.
Manajer program, Amiruddin Muttaqin, menegaskan bahwa perubahan sistem menjadi kunci.
“Kami ingin mencegah sampah bocor ke laut, mengurangi timbulan dari sumbernya, dan mengubah perilaku masyarakat,” katanya.
Kali Tebu kini bukan lagi sekadar aliran air. Ia adalah narasi tentang perlawanan terhadap pencemaran, tentang manusia yang mulai mendengar jerit sunyi alam.
Jika upaya ini terus mengalir, bukan tidak mungkin suatu hari nanti sungai-sungai di Surabaya akan kembali pulang ke laut tanpa membawa luka.
Reporter: Sapriaris






Discussion about this post