INformasinasional.com, LANGKAT – Operasi Tangkap Tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang menyeret Bupati Langkat, Syah Afandin, tak hanya mengguncang roda pemerintahan, tetapi juga menyisakan suasana haru dilingkungan Pemerintah Kabupaten Langkat.
Wakil Bupati Langkat, Tiorita Br Surbakti, tak mampu membendung air mata saat dimintai tanggapan oleh wartawan terkait diamankannya Syah Afandin oleh KPK. Momen emosional itu terjadi usai acara nonton bareng Piala Dunia di Jentera Malay, Rumah Dinas Bupati Langkat, Jumat (3/7/2026).
Dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca, Tiorita memilih menghormati proses hukum yang sedang berjalan seraya mengedepankan asas praduga tak bersalah. “Saya menghormati asas praduga tak bersalah. Saya hanya bisa berdoa, khususnya untuk Kabupaten Langkat, semoga Pak Bupati selalu berada dalam lindungan Allah SWT,” kata Tiorita sebelum akhirnya menangis dihadapan wartawan.
Langkat harus kuat dan maju, agar lebih baik dan sejahtera. Saya tidak tau sampai detik ini dimana keberadaan pak bupati, kata Tiorita lagi.
Tiorita juga menyampaikan doa dan dukungan moral kepada keluarga Syah Afandin agar tetap tabah menghadapi cobaan tersebut.
Ia mengungkapkan, pertemuan terakhirnya dengan Bupati terjadi dua hari sebelumnya saat peringatan Hari Bhayangkara. “Terakhir saya bertemu saat Hari Bhayangkara. Aduh… saya sudah tidak bisa bicara lagi. Semoga Pak Bupati sehat, jaga kesehatan dan terus berdoa,” katanya sembari menahan tangis.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Langkat, Amril, yang turut berada dilokasi, memilih tidak memberikan komentar sedikit pun terkait operasi senyap KPK tersebut.
Operasi senyap KPK yang berlangsung di wilayah Langkat, Binjai, dan Medan mengguncang panggung politik Sumatera Utara. Sebanyak tujuh orang diamankan dalam operasi tersebut.
Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, menjelaskan bahwa tujuh orang yang dibawa penyidik terdiri atas Bupati Langkat Syah Afandin, seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) dilingkungan Pemerintah Kabupaten Langkat, serta lima orang dari pihak swasta.
“Ketujuh orang tersebut diamankan diwilayah Langkat, Binjai, dan Medan, kemudian dibawa ke Jakarta untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut di Gedung Merah Putih KPK,” kata Budi Prasetyo di Jakarta, Jumat (3/7/2026).
Dalam operasi tersebut, KPK juga menyita barang bukti berupa uang tunai senilai ratusan juta rupiah yang diduga berkaitan dengan praktik suap.
Diduga Terkait Fee Proyek Dinas Pendidikan dan Perkim.
Berdasarkan keterangan sementara KPK, perkara yang sedang ditangani berkaitan dengan dugaan suap berupa fee proyek pengadaan meubeler di Dinas Pendidikan serta Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim) Kabupaten Langkat Tahun Anggaran 2025.
Penyidik menduga praktik pemberian fee proyek tidak berhenti pada satu kegiatan, melainkan berlangsung setiap kali proyek dijalankan. Dugaan tersebut masih terus didalami melalui pemeriksaan terhadap para pihak yang diamankan maupun saksi-saksi lain.
“Kami tidak menutup kemungkinan akan memeriksa pihak-pihak lain untuk mengembangkan penyidikan,” kata Budi Prasetyo.
Hingga berita ini dilansir, kantor Bupati Langkat di Jalan Proklamasi, Kecamatan Stabat masih terlihat lengang. Tiga pintu akses menuju ruang kerja Bupati telah dipasangi segel bertuliskan “Dalam Pengawasan KPK”, lengkap dengan tanda tangan penyelidik.
Penyegelan tersebut menandai bahwa area itu kini menjadi bagian dari lokasi yang berada dalam pengawasan penyidik guna kepentingan proses hukum.*
Editor: Misno






Discussion about this post