INformasinasional.com, LABUHANBATU — Tidak ada tanda. Tidak ada firasat. Sabtu malam itu hanya tampak seperti perjalanan biasa bagi Syamsuddin. Seperti puluhan tahun sebelumnya, pria 62 tahun asal Tanjung Balai itu menghidupkan mesin truk Fuso BK 8109 LY yang mengangkut barang kelontong.
Tujuannya jelas: mengantar muatan dari Medan menuju Bagan Batu, Rokan Hilir, Riau. Sebuah rute yang begitu akrab bagi seorang sopir yang telah menghabiskan lebih dari tiga dekade hidupnya dibalik kemudi.
Dirumah, istrinya, Sartik, menyiapkan pakaian seperti biasa. Tidak ada kecemasan. Tidak ada pelukan perpisahan yang terasa berbeda.
“Saya menyediakan baju keperluannya. Tak punya pikiran negatif saat melepasnya berangkat kerja,” tutur perempuan yang telah puluhan tahun mendampingi suaminya dan membesarkan enam orang anak.
Namun, kehidupan memang kerap berubah hanya dalam hitungan detik. Malam itu, sekitar pukul 23.10 WIB, truk memasuki kawasan Bukit Kotapinang di Jalan Lintas Sumatera, Kabupaten Labuhanbatu Selatan.
Saat melintasi tanjakan, semuanya masih berjalan normal. Tidak ada gejala kerusakan. Tidak ada suara mencurigakan. Masalah justru muncul ketika kendaraan mulai menuruni bukit.
Syamsuddin menginjak pedal rem. Tidak ada respons. Ia mengocok rem berulang kali. Tetap tidak berfungsi.
“Rem membatu. Terasa keras. Diinjak tak bisa menghentikan kendaraan yang semakin melaju di turunan,” kenangnya dari ruang Mawar Nomor 1B RSUD Rantauprapat, Senin (6/7/2026), setelah menjalani tindakan penyedotan cairan dari rongga dada kanannya.
Kecepatan terus bertambah. Jarak semakin pendek. Pilihan semakin sedikit.
Yang masih ia ingat hanyalah benturan pertama dengan spion sebuah truk putih dari arah berlawanan. Selebihnya, memorinya kosong.
Sementara Syamsuddin berjuang mengendalikan truk yang kehilangan daya pengereman, suasana malam di pusat Kota Kotapinang berlangsung seperti biasa.
Warung-warung masih melayani pembeli. Kendaraan berlalu-lalang. Warga menikmati akhir pekan.
Lalu suara dentuman memecah malam.
Truk bermuatan barang kelontong itu meluncur tanpa kendali, menghantam sepeda motor, mobil, warung pedagang, tiang listrik, hingga bangunan ruko di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman.
Orang-orang berteriak. Sebagian berlari menyelamatkan diri. Sebagian lainnya tak sempat menghindar.
Truk baru berhenti setelah menghantam sejumlah kendaraan, tiang listrik, dan bangunan ruko, tepat di depan salah satu showroom sepeda motor Honda.
Dalam beberapa detik, jalan utama Kotapinang berubah menjadi lokasi bencana.
Diantara para korban, ada Rina Gustina Nasution (44). Guru swasta di SMK KH Dewantara itu malam itu hanya ingin menikmati segelas bandrek di warung langganannya.
“Mamak memang sering belanja dikedai bandrek itu,” ujar putrinya, Arlin Harahap.
Rina tidak sendirian. Bersama Indah Mailinda Nasution, Adenan Harahap, dan Nabila Salsabila, ia sedang menunggu pesanan minuman.
Tidak ada yang menyangka, beberapa saat kemudian, suara mesin truk yang melaju tanpa kendali mengakhiri suasana santai mereka.
Kini Rina harus menjalani perawatan di RSUD Rantauprapat setelah sebelumnya dirujuk dari RSUD Kotapinang.
Segelas bandrek yang dipesan malam itu tak pernah sempat dinikmati.
Diruang perawatan rumah sakit, Syamsuddin lebih banyak terdiam. Ia bukan hanya menanggung rasa sakit akibat luka di tubuhnya.
Ia juga memikul kenyataan bahwa kecelakaan itu merenggut dua nyawa dan melukai sebelas orang lainnya.
“Tidak menyangka peristiwa ini terjadi,” ucapnya lirih.
Kalimat itu sederhana.Namun, di baliknya tersimpan beban yang mungkin akan terus menghantui sepanjang hidupnya.
Bagi seorang sopir, kendaraan bukan sekadar alat mencari nafkah. Kendaraan adalah tanggung jawab.
Ketika tanggung jawab itu gagal karena dugaan rem blong, rasa bersalah kerap datang bahkan sebelum proses hukum menentukan siapa yang bertanggung jawab.
Menanti Jawaban dari Penyelidikan
Hingga kini, aparat kepolisian masih melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab pasti kecelakaan. Olah tempat kejadian perkara telah dilakukan, korban didata, begitu pula kendaraan yang terlibat.
Pertanyaan mengenai penyebab rem gagal berfungsi masih menunggu jawaban dari hasil investigasi.
Namun, apa pun hasilnya nanti, ada kenyataan yang tak bisa diputar kembali. Dua keluarga kehilangan orang yang mereka cintai. Sebelas korban harus menjalani perawatan. Puluhan kendaraan rusak. Warung-warung porak-poranda.
Dan seorang sopir bernama Syamsuddin harus menjalani sisa hidupnya dengan kenangan tentang sebuah turunan di Bukit Kotapinang tempat ketika pedal rem yang membatu mengubah perjalanan biasa menjadi tragedi yang akan selalu dikenang Labuhanbatu Selatan.
Reporter: Fajar






Discussion about this post