KELANGKAAN BBM di Kabupaten Langkat telah terjadi sejak sepekan lalu antrian mengular dan banyaknya usaha angkutan yang terpaksa terhenti beraktifitas,usaha rumahan juga harus berhenti beroperasi.
Sementara baik pemerintah dan juga pertamina terlalu enteng menyikapi masalah kelangkaan BBM,celakanya Pihak Pertamina hanya meminta maaf padahal warga Langkat sudah menjerit dan sistematis merusak tatanan ekonomi warga.
Yang lebih parahnya lagi kondisi kelangkaan BBM tersebut bermunculan pula BBM Oplosan yang dijual eceran sehingga banyak pengendara harus bongkar mesin kendaraan nah dalam keadaan tersebut bisakah Rakyat menggugat kepihak Pertamina Patraniaga atas kerugian materil dan inmateril yang dialami warga jawabnya sederhana,”tidak hanya mimpi disiang bolong” saja.
Derita kelangkaan BBM mutlak disarakan seluruh masyarakat namun justru tidak bagi sekelompok pedagang BBM eceran pasalnya mereka mendapat keuntungan ganda akibat kelangkaan tersebut bagaimana tidak mereka menjual BBM jenis Pertalit 17 ribu sampai 20 ribu per liternya dan BBM jenis Pertamax 25 ribu sampai 30 ribu perliternya.
Sedangkan BBM jenis Solar mereka jual 13 ribu sampai 15 ribu perliternya,jeritan para sopir truk dan juga kendaraan roda dua justru semakin bertambah deritanya alhasil ini jeruk makan jeruk.
Seorang pedagang bbm eceran saat ditanya jimat,17 Juli 2026,kenapa pertalit 15 ribu buk,ya pak suami saya beli minyak dari jam 2 subuh baru dapat jam 10 pagi itupun,apa boleh di SPBU beli pakai jerigen nggk boleh pak suami saya melangsir minyaknya kebetulan tangki keretanya besar muat 12 liter jadi sehari bisa dapat tiga trep pak.
Nah pembicaraan yang sesederhana itu menjadikan kita tersadar bahwa ternyata masyarakat pedagang eceran sudah terbiasa mendapatkan bbm dengan cara melangsir berulang ulang menggunakan sepeda motor yang bertangki besar.
Dengan derita sesama tererbut jadi ajang meraup keuntungan berlipat yang tentu saja menambah sederetan panjang jeritan hati Masyarakat yang tanpa mereka sadari bahwa apa yang mereka lakukan menambah sederetan panjang akumulasi derita sesama.
Yah memang untuk mendapatkan BBM mereka harus rela antri berjam jam bahkan harus rela begadang namun tanpa disadari bahwa yang antri BBM tersebut banyak warga pengendara yang hanya ingin mencukupi kendaraan tanpa untuk dijual kembali tapi hsrus rela antri dibelakang para broker broker BBM eceran dengan kendaraan bertangki besar.
Prilaku ini mendapat kecaman keras dari Ketua DPD Ampi Kabupaten Langkat Bung Lubis,fenomena azas manfaat pedagang BBM eceran yang mereka beli di SPBU dengan hsrga subsidi tersebut tentu bukanlah dijadikan ajang mencari keuntungan yang berlipat seperti itu sedangkan mereka membeli bbm subsidi.
Membeli dengan harga subsidi tapi justru mrnjualnya dengan harga selangit,andai mereka menyadari bahwa mereka sudah mengambil hak warga yang lain dengan membeli secara berulang ditiap SPBU justru prilaku seperti ini yang menambah deretan antrian tanpa skan pernah terputus.
Kondisi ini semestinya menjadi perhatian khusus pemetintah terutama Dinas Perindustrian dan Perdagangan serta Satuan Polisi Pamong Praja untuk menertibkannya agar para pedagang eceran tersebut bersikap lebih arip dan jangan semau gue membuat harga ecerannya.
Karensa bila hal ini terus menerus dilakukan pembiaran maka antrian panjang akan terus terjadi dan pihak SPBU juga harus bisa lebih teliti bahwa pengendara kendarasn dengan tangki jumbo tidak dibiarkan mengisi BBM subsidi secara berulang ulang.
Tentu kita semua harus lebih bijak menyikapi hal ini,BBM merupakan kebutuhan vital tapi jangan memanfaatkan kesempatan diantara derita sesama warga,dan stop menjual BBM eceran dengan harga selangit tetap buka hati bahwa kelangkasn BBM ini derita bersama jangan ciptakan derita diatas derita baru….semoga.
Oleh: Mhd Zaid P Lubis ST
Pengamat Ekonomi.






Discussion about this post