INformasinasional.com, LABUHANBATU — Persoalan banjir yang selama bertahun-tahun menghantui warga di kawasan Jalan Abdul Rahman hingga Jalan Gatot Subroto dan Jalan Ahmad Dahlan, Kota Rantauprapat, kembali menjadi sorotan. Kali ini, persoalan tersebut ditinjau langsung Anggota DPRD Labuhanbatu dari Fraksi PDI Perjuangan, Tommy Raymen, bersama Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Labuhanbatu, Selasa (11/8/2026).
Peninjauan dilakukan untuk melihat secara langsung kondisi saluran drainase dan jalur pembuangan air yang selama ini menjadi titik persoalan saat hujan deras mengguyur kawasan tersebut.
Bagi warga, banjir bukan lagi persoalan sesaat. Genangan air disebut dapat muncul kurang dari 30 menit setelah hujan turun. Kondisi itu bahkan berdampak pada sejumlah rumah ibadah, mulai dari musala, gereja hingga vihara yang berada di sekitar kawasan.
Warga Jalan Abdul Rahman, Upik, mengatakan persoalan banjir telah berlangsung bertahun-tahun. Ia berharap peninjauan kali ini tidak berhenti pada survei, tetapi berlanjut menjadi pekerjaan nyata.
“Kalau hujan, belum sampai setengah jam saja sudah banjir. Dari dulu sudah ada yang survei, tapi tidak juga dikerjakan. Mudah-mudahan dengan adanya Pak Tommy dari DPRD ini bisa direalisasikan,” ujar Upik.
Menurutnya, kondisi kawasan tersebut seperti menjadi titik berkumpulnya aliran air dari berbagai arah. Ketika kapasitas saluran tidak mampu menampung debit air, genangan pun dengan cepat meluas.
“Ini ibarat kuali, air dari mana-mana kumpulnya, pembuangannya di sini. Sedih kita melihat tergenang air, apalagi ini musala. Sudah tahunan-lah,” katanya.
Keluhan serupa disampaikan Kepala Lingkungan Ahmad Dahlan, Kelurahan Cendana, Vika. Ia mengatakan kawasan tersebut, termasuk sekitar depan kafe dan vihara, hampir selalu mengalami banjir ketika hujan dengan intensitas tinggi.
“Saya jadi kepling sudah tiga tahun, di sini selalu banjir. Setiap reses juga selalu disampaikan, tapi sampai sekarang belum direalisasikan,” ungkapnya.
Dari perspektif lingkungan, persoalan ini menunjukkan bahwa banjir perkotaan tidak semata-mata berkaitan dengan tingginya curah hujan. Kapasitas drainase, kelancaran jalur pembuangan, sedimentasi, serta perubahan permukaan lahan yang mengurangi kemampuan tanah menyerap air juga menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan.
Karena itu, penanganan idealnya tidak hanya berorientasi pada memperbesar parit, tetapi juga memastikan seluruh sistem pengelolaan air bekerja sebagai satu kesatuan, mulai dari saluran lingkungan hingga titik pembuangan akhir. Pemeliharaan rutin juga penting agar saluran tidak kehilangan kapasitas ketika menghadapi debit air tinggi.
Vika mengatakan warga sangat berharap pemerintah benar-benar memberikan solusi terhadap persoalan yang terus berulang tersebut.
“Semua warga selalu bilang kepada saya, kalau memang Pak Tommy mau menyelesaikan masalah banjir, kami sangat bersyukur sekali,” ujarnya.
Sementara itu, Tommy Raymen ketika dihubungi, Rabu (12/8/2026) di Rantauprapat mengatakan dirinya turun langsung untuk memastikan kondisi di lapangan sekaligus membawa persoalan tersebut dalam pembahasan bersama Dinas PUPR.
Menurutnya, penanganan banjir tidak cukup hanya dilakukan melalui survei. Dibutuhkan tindak lanjut berupa perbaikan sistem drainase agar aliran air dapat berjalan dengan baik.
“Kita melihat langsung kondisi parit dan jalur pembuangan airnya. Ini sudah menjadi keluhan masyarakat dan dampaknya juga dirasakan rumah ibadah. Karena itu, kita minta persoalan ini segera ditindaklanjuti,” kata Tommy.
Tommy berharap perbaikan drainase di kawasan tersebut dapat direalisasikan tahun ini. Harapannya, warga tidak lagi hidup dalam kekhawatiran setiap kali awan gelap dan hujan deras datang.
“Harapan kita tahun ini sudah ada pengerjaan,” harapnya.
Bagi warga, pembenahan drainase bukan sekadar pembangunan infrastruktur. Saluran air yang berfungsi baik merupakan bagian dari perlindungan lingkungan perkotaan, menjaga akses masyarakat tetap aman, sekaligus memastikan rumah dan rumah ibadah tidak terus menjadi korban genangan yang berulang setiap musim hujan.
Reporter: Fajar Dame H
Editor: Ardiansyah






Discussion about this post