INformasinasional.com, Pemalang —
Tanah longsor di Kecamatan Watukumpul, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, kembali memakan korban. Belum genap dua pekan sejak longsor menewaskan warga di Dukuh Siranti, Desa Bongas, bencana serupa kembali menyergap. Kali ini, ibu dan anak di Desa Jojogan menjadi sasaran maut. Watukumpul kembali berkabung.
Peristiwa terjadi pada Jumat sore, 6 Januari 2026. Hujan deras yang mengguyur wilayah selatan Pemalang sejak siang hari memicu longsoran dari perbukitan dibelakang rumah warga. Sekitar pukul 16.30 WIB, tebing tanah runtuh dan menghantam rumah milik Puji Purwanto di RT 004/RW 001 Desa Jojogan.
Dua penghuni rumah, Yuliati (37) dan anaknya, Kiki Puji Yuliani (9), tak sempat menyelamatkan diri. Longsoran tanah datang tiba-tiba, menimbun bagian rumah sekaligus menutup akses jalan raya Watukumpul–Cikadu.
Warga yang panik berusaha melakukan evakuasi dengan peralatan seadanya. Kedua korban berhasil dikeluarkan dari timbunan dan segera dilarikan ke Puskesmas Watukumpul. Namun, nasib tragis tak terhindarkan. Dalam perjalanan, Kiki Puji Yuliani mengembuskan napas terakhir. Sang ibu selamat, namun harus menjalani perawatan intensif akibat patah tulang.
“Curah hujan tinggi terjadi hampir sepekan terakhir,” demikian laporan Forum Pimpinan Kecamatan (Forkopincam) Watukumpul. Namun, pernyataan itu tak cukup menepis kenyataan pahit: wilayah rawan longsor ini kembali memakan korban jiwa, meski peringatan dan tragedi serupa baru saja terjadi sebelumnya.
Selain merenggut nyawa seorang anak, longsor ini juga menghancurkan rumah korban. Kerugian materi ditaksir mencapai Rp130 juta. Aparat Koramil 12 Watukumpul, Serka Sumanto dan Serka Tolani, turun ke lokasi untuk membantu evakuasi bersama warga. Pemerintah Desa Jojogan telah melaporkan kejadian tersebut ke Forkopincam.
Rentetan longsor di Watukumpul membuka luka lama, minimnya mitigasi bencana dikawasan rawan, lemahnya penataan permukiman dilereng perbukitan, serta absennya langkah pencegahan yang serius. Hujan memang tak bisa dicegah. Tapi korban berulang seharusnya bisa diminimalisir.
Kini, satu nyawa melayang. Satu keluarga porak-poranda. Dan Watukumpul kembali menjadi catatan kelam dimusim hujan,menunggu, entah siapa lagi yang akan menjadi korban berikutnya.
Reporter: Ragil Surono






Discussion about this post