INformasinasional.com, Nias Selatan — Ditengah harga pangan yang kian liar dan daya beli warga desa yang makin tercekik, Pemerintah Desa Balohao, Kecamatan Aromo, Kabupaten Nias Selatan, akhirnya menggelontorkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) Dana Desa tahap II bagi keluarga miskin ekstrem. Total anggaran yang disalurkan mencapai Rp 46,8 juta, dibagi kepada 26 Keluarga Penerima Manfaat (KPM).
Setiap KPM menerima Rp 1,8 juta, hasil akumulasi bantuan Rp 300 ribu per bulan selama enam bulan, terhitung sejak Juli hingga Desember 2025. Dana tersebut diambil dari alokasi maksimal 60 persen pagu Dana Desa, sesuai ketentuan pemerintah pusat.
Penyaluran BLT berlangsung Sabtu, 31 Desember 2025, dan disaksikan deretan panjang pejabat dan unsur masyarakat: Babinsa Aromo, kepala desa dan perangkatnya, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), tokoh adat, tokoh agama, tokoh pemuda, hingga pendamping desa. Lengkap. Nyaris seperti upacara kenegaraan diskala desa.
Program BLT ini diklaim sebagai bagian dari pelaksanaan Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2022 tentang percepatan penghapusan kemiskinan ekstrem. Penetapan penerima, menurut pemerintah desa, telah melalui musyawarah desa dan mengacu pada regulasi berlapis, mulai dari Permendes PDTT Nomor 8 Tahun 2022 hingga Peraturan Menteri Keuangan Nomor 201 dan Nomor 7 Tahun 2022.
Kepala Desa Balohao, Faele Buulolo, SE., C.Md, dalam sambutannya mengingatkan agar bantuan tersebut tidak disalahgunakan. “Gunakan untuk kebutuhan pokok, beras, minyak goreng, cabai, lauk-pauk. Jangan dihambur-hamburkan,” ujarnya dihadapan para penerima bantuan.
Ia juga menyinggung soal transparansi anggaran desa. Menurut Faele, papan informasi APBDes telah dipasang secara terbuka. “Pendapatan desa jelas. Ada visi yang harus kita kerjakan bersama. Yang kita butuhkan bukan kuantitas, tapi kualitas,” katanya.
Pernyataan itu seolah menjadi penegasan bahwa BLT bukan solusi jangka panjang, melainkan sekadar bantalan darurat di tengah realitas ekonomi desa yang rapuh. Terlebih, harga bahan pangan yang terus berfluktuasi membuat Rp 300 ribu per bulan nyaris tak lebih dari penahan napas bagi keluarga miskin ekstrem.
Meski demikian, bagi 26 KPM di Balohao, bantuan ini tetap berarti. Setidaknya, untuk sementara, dapur masih bisa mengepul—meski masa depan tetap bergantung pada sejauh mana negara hadir lebih dari sekadar angka dipapan APBDes.
(Reporter: Mareti Tafonao)






Discussion about this post