INformasinasional.com, Langkat — Ditengah sisa lumpur dan trauma banjir yang belum sepenuhnya surut, Pemerintah Kabupaten Langkat memilih tak tinggal diam. Sabtu siang (14/2/2026), di Jentera Malay Rumah Dinas Bupati, zakat, infak, dan sedekah (ZIS) tahun 2026 resmi digulirkan. Bukan sekadar seremoni, melainkan penegasan, solidaritas tak boleh ikut hanyut bersama arus bah.
Bupati Langkat H Syah Afandin SH yang diwakili Wakil Bupati Tiorita Br Surbakti menyalurkan ZIS yang dikelola Badan Amil Zakat Nasional Kabupaten Langkat. Momentum ini dirangkai dengan pendistribusian bantuan bagi siswa dan guru ngaji yang terdampak banjir, kelompok yang sering kali luput dari sorot, namun memikul beban paling sunyi.
Ketua Panitia, Rismandianto Karo-karo, menyebut pendistribusian ZIS sebagai komitmen kolektif pemerintah dan Baznas dalam kemaslahatan umat. “Kolaborasi ini bukan simbolik. Bantuan harus benar-benar dirasakan,” katanya.
Kalimat yang terdengar sederhana, namun menjadi penegas bahwa zakat tak boleh berhenti sebagai angka dilaporan keuangan.
Data bantuan yang disalurkan terbilang konkret. Sebanyak 250 kilogram beras dibagikan kepada 50 penyandang disabilitas, masing-masing menerima lima kilogram.
Satu unit rumah akan dibedah untuk Susilawati, warga Desa Tamaran, Kecamatan Hinai. Satu kursi roda diserahkan kepada penerima manfaat. Surat Keputusan juga diberikan kepada Triwindu Jaya sebagai Ketua UPZ Kelurahan Kwala Bingai, Kecamatan Stabat, penguatan simpul zakat diyingkat akar rumput.
Namun yang membuat acara itu terasa lebih luas dari sekadar agenda kabupaten adalah hadirnya jejaring solidaritas lintas daerah.
Pemerintah Kabupaten Langkat bersama Baznas Langkat dipercaya menjadi perpanjangan tangan Kitabisa dan Badan Amil Zakat Nasional Kota Bandung.
Dari Kitabisa, 100 paket perlengkapan ibadah mukena, sarung, tikar dan lainnya dibagikan kepada warga terdampak.
Sementara Baznas Kota Bandung menyalurkan dana Rp50 juta untuk perlengkapan sekolah dan bantuan tunai, 80 siswa masing-masing Rp300 ribu dan 40 guru ngaji masing-masing Rp400 ribu.
Angka-angka itu mungkin tampak kecil diatas kertas, tetapi ditengah rumah yang terendam dan buku yang hanyut, nilainya bisa menjadi penopang harapan.
Wakil Bupati Tiorita Br Surbakti dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat. Ia menyebut gotong royong sebagai napas utama penanganan dampak bencana. “Semoga bantuan ini meringankan beban saudara-saudara kita dan menjadi keberkahan bagi kita semua,” katanya.
Ketua Baznas Langkat Thantawi Jauhari menegaskan komitmen untuk terus mengoptimalkan penghimpunan dan pendistribusian zakat agar tepat sasaran dan berdampak luas. Pernyataan itu menjadi pengingat bahwa zakat bukan hanya ritual tahunan, melainkan instrumen sosial yang jika dikelola serius, mampu menjadi bantalan ketika bencana datang tanpa permisi
Turut hadir dalam kegiatan tersebut perwakilan Polres Langkat, Kemenag Langkat, MUI Kabupaten Langkat, sejumlah kepala dinas, camat, serta jajaran Baznas Langkat. Deretan nama dan jabatan itu menegaskan satu hal,, dihadapan banjir, birokrasi dan masyarakat berdiri disisi yang sama.
Banjir mungkin telah merendam rumah dan ruang belajar. Namun di Jentera Malay siang itu, yang mengapung justru pesan berbeda, bahwa kepedulian masih memiliki arusnya sendiri. Dan arus itu, setidaknya kemarin mengalir ketangan para siswa dan guru ngaji yang berusaha bangkit dari genangan.(Misno)






Discussion about this post