INformasinasional.com, Nias Selatan — Kepemimpinan baru di Kecamatan Idanotae tak ingin berjalan ditempat. Baru duduk dikursi camat, Sadarmeiman Buulolo langsung menancapkan gas. Ia memulai masa baktinya dengan rapat koordinasi lintas unsur yang menelurkan dua agenda besar: membenahi jalan rusak dan menata Los Pekan sebagai urat nadi ekonomi rakyat.
Langkah awal ini bukan sekadar seremoni penyambutan. Rapat yang digelar di Kantor Camat Idanotae, Rabu (4/2/2026), menjadi panggung konsolidasi sekaligus ujian dini bagi kepemimpinan Sadarmeiman, apakah sanggup menerjemahkan semangat kolektif menjadi kerja nyata.
“Saya melihat semangat kebersamaan dan sinergi yang baik dari para tokoh dan pegawai. Ini modal awal yang harus dijaga,” ujar Sadarmeiman dalam sambutannya, menegaskan bahwa ia tak ingin bekerja sendirian.
Ia menggarisbawahi pentingnya komunikasi terbuka, kerja lintas desa, serta profesionalisme aparatur. Pembangunan, kata dia, akan mandek jika ego sektoral dan kerja serampangan masih dipelihara.
Rapat koordinasi ini dihadiri kepala desa, BPD, perangkat desa, tokoh masyarakat, unsur pendidikan, pemuda, hingga perwakilan pers dan LSM. Forum tersebut menjadi ruang terbuka untuk menyatukan persepsi sekaligus membuka fakta-fakta yang selama ini kerap dipendam.
Dua isu lama kembali mencuat dan kini dipasang sebagai target awal kepemimpinan camat baru. Pertama, jalan rusak yang selama bertahun-tahun menjadi keluhan warga dan simbol lambannya pembangunan infrastruktur. Kedua, Los Pekan, yang dinilai belum dikelola maksimal sebagai pusat ekonomi rakyat.
Dari desa, suara kritis pun muncul. Kepala Desa Hiliserangkai menyoroti belum jelasnya pengaturan aparatur desa yang berstatus PPPK paruh waktu, yang berpotensi menimbulkan tumpang tindih tugas dan kewenangan.
Sementara itu, dunia pendidikan ikut angkat bicara. Kepala SMK Negeri 1 Idanotae, Kristian Lase, mengajak seluruh unsur untuk meninggalkan sekat-sekat kepentingan.
“Dunia pendidikan siap bersinergi mendukung visi dan misi Camat Idanotae demi kemajuan wilayah,” katanya.
Nada lebih keras datang dari tokoh masyarakat Ama Sinta Tafonao. Ia mendorong kepala desa agar tidak berlindung di balik dalih klasik “tidak ada anggaran”.
“Kalau dikelola dengan baik, ratusan juta dana desa bisa membuka puluhan hektare kebun jagung dan menggerakkan ekonomi masyarakat. Ini soal kemauan dan perencanaan,” tegasnya, menyentil langsung tanggung jawab para KPA Dana Desa.
Dari unsur pemuda, Ketua KOMIT (Komunitas Pemuda Idanotae), Idaman Bawamenewi, mengingatkan persoalan mendasar yang tak boleh diabaikan: air bersih, bahkan dilingkungan Kantor Camat sendiri.
Namun ia tetap optimistis. “Kami percaya camat baru bisa menjadi perekat dan pemersatu seluruh potensi Idanotae,” ujarnya.
Rapat koordinasi ditutup dengan ramah tamah sederhana. Para tokoh masyarakat menyampaikan apresiasi atas kepemimpinan sebelumnya, sekaligus menyatakan komitmen mendukung pemerintahan baru, dengan satu catatan: janji harus segera menjelma aksi.
Melalui rapat perdana ini, Pemerintah Kecamatan Idanotae menegaskan arah baru: tata kelola yang lebih terbuka, kolaboratif, dan berpihak pada kepentingan rakyat. Publik kini menunggu, apakah dua program prioritas itu benar-benar menjadi solusi, atau sekadar jargon pembuka masa jabatan.
Reporter: Mareti Tafonao






Discussion about this post