INformasinasional.com, MADINA — Banjir besar yang menyapu Mandailing Natal pada 8 Desember 2025 meninggalkan luka panjang disektor pertanian. Ribuan hektare sawah dan kebun luluh lantak, petani kehilangan musim tanam, dan ancaman krisis ekonomi mengintai desa-desa lumbung pangan. Pemerintah pun dipaksa bergerak cepat, tanpa ruang untuk basa-basi.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Mandailing Natal, Taufik Zuhendra Ritongan, menggeber percepatan pemulihan lahan pertanian dan perkebunan yang terdampak banjir. Targetnya jelas, petani harus segera kembali ke sawah, sebelum kerugian membengkak dan daya hidup ekonomi desa benar-benar ambruk.
“Total lahan pertanian terdampak mencapai 4.498 hektare, dan 3.359 hektare di antaranya dinyatakan puso atau gagal panen. Tanaman yang hancur meliputi padi, jagung, cabai, timun, tomat, terong, hingga kacang panjang,” kata Taufik saat meninjau lokasi pemulihan di Desa Muara Batang Angkola, Minggu, 1 Januari 2026.
Menurut Taufik, pemerintah tidak menunggu keadaan pulih dengan sendirinya. Pengerukan saluran air, normalisasi irigasi, hingga distribusi bantuan benih terus dikebut. “Ini bukan sekadar pemulihan lahan, tapi upaya menyelamatkan ekonomi warga. Pertanian adalah nadi kehidupan masyarakat Madina,” ujarnya.
Ia menegaskan, penanganan pascabencana dilakukan secara terpadu. Pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten diklaim bersinergi menangani berbagai sektor terdampak, dari infrastruktur hingga pertanian, tanpa kompromi. “Kami bekerja tanpa pamrih. Kalau pertanian lumpuh, maka warga kehilangan penghasilan utama,” katanya.
Dari tingkat desa, apresiasi datang. Banuara, Kepala Desa Hutagodang Muda, Kecamatan Siabu, menyebut perhatian pemerintah terhadap sektor pertanian tergolong serius. Perbaikan irigasi dan sanitasi mulai berjalan, sementara bantuan benih telah tiba ditangan petani.
“Respons pemerintah cukup maksimal. Pertanian adalah tulang punggung ekonomi warga kami, dan itu mendapat perhatian khusus dari pusat hingga daerah,” ujar Banuara. Ia berharap petani bisa segera kembali menanam padi, jagung, kacang-kacangan, cabai, serta komoditas hortikultura lain yang selama ini menjadi sumber nafkah utama.
Dilapangan, harapan itu bergema dari para petani. Khoirul, warga Hutagodang Muda, menyebut bantuan yang datang menjadi secercah cahaya setelah banjir memusnahkan tanaman mereka. “Kami berterima kasih. Harapannya, benih dan bantuan pemulihan ini benar-benar bisa menghasilkan panen yang lebih baik,” katanya.
Kini, waktu menjadi musuh sekaligus penentu. Jika pemulihan terlambat, petani terancam kehilangan satu musim tanam penuh. Di Madina, pertaruhan bukan sekadar panen melainkan keberlangsungan hidup ribuan keluarga petani.
Laporan: Henri Pulungan






Discussion about this post