INformasinasional.com, BEKASI – Suhu politik ditubuh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) menggelegak. Sabtu siang, 30 Agustus 2025, Kongres PWI di Cikarang, Bekasi, berubah menjadi arena pertarungan panas dua tokoh besar. Akhmad Munir, Direktur Kantor Berita Antara, versus Hendry Ch Bangun, mantan Sekjen PWI Pusat.
Bukan sekadar kongres biasa, inilah pertaruhan 87 hak suara yang akan menentukan siapa yang bakal duduk disinggasana tertinggi sebagai Ketua Umum PWI periode 2025–2030. Bukan hanya kursi Ketua Umum, tetapi juga kursi Ketua Dewan Kehormatan PWI yang diperebutkan antara Atal S. Depari dan Sihono ST.
Atmosfer Cikarang mendadak menjadi medan tarung opini, lobi, dan strategi. Setiap hak suara dari 38 provinsi dan daerah menjadi rebutan sengit, seolah-olah menjadi ‘emas politik’ yang tak ternilai.

Dari barat hingga timur nusantara, peta dukungan sudah mulai terkuak. PWI Aceh dengan 3 suara, Sumut 4 suara, Riau 4 suara, hingga Lampung dengan 5 suara, menjadi medan tempur krusial. Jawa pun jadi ‘arena gladiator’ DKI Jakarta dengan 3 suara, Jawa Barat 5 suara, Jawa Tengah 3 suara, Solo 1 suara, DIY 2 suara, dan Jawa Timur 4 suara.
Tak ketinggalan, wilayah Indonesia timur ikut menyumbang panasnya atmosfer. Sulsel 3 suara, Maluku 2 suara, NTB dan NTT masing-masing 1 suara, Papua dengan 1 suara, hingga Papua Pegunungan, Papua Tengah, Papua Selatan, Papua Barat Daya, dan Papua Barat yang masing-masing membawa 1 suara emas.
Semua total 87 suara ini menjadi tiket emas menuju kursi paling bergengsi di jagat kewartawanan Indonesia.
Munir Unggul Tipis, Hendry Siapkan Kejutan
Hasil verifikasi dukungan sementara menempatkan Akhmad Munir unggul dengan kantong dukungan dari 15 PWI Provinsi. Namun, jangan remehkan Hendry Ch Bangun yang mengantongi 13 PWI Provinsi. Meski secara angka Munir unggul tipis, dinamika kongres PWI terkenal cair dan tak jarang berujung pada kejutan dramatis dimenit-menit akhir.
Dibalik layar, isu lobi-lobi politik, janji program, hingga tarik-menarik kepentingan kabarnya sudah berlangsung sejak jauh hari. Satu suara bisa menjadi penentu arah sejarah PWI lima tahun ke depan.
Kongres PWI 2025 ini bukan sekadar memilih ketua. Lebih dari itu, ia akan menentukan arah organisasi wartawan terbesar di Indonesia. Apakah akan tetap berjalan dalam tradisi lama atau lahir dengan wajah baru yang lebih berani menghadapi tantangan era digital, kebebasan pers, dan arus besar informasi global.
Di Cikarang hari ini, 87 suara emas itulah yang akan menjawab pertanyaan besar siapa yang akan menjadi ‘panglima tertinggi’ insan pers Indonesia lima tahun mendatang. Munir sang Direktur Antara, atau Hendry sang organisator ulung?
Yang pasti, aroma pertarungan kian memanas. Semua mata wartawan se-Indonesia kini tertuju ke Cikarang.(Misno)