INformasinasional.com, Banda Aceh — Angka-angka itu tampak menenangkan, deflasi 0,24 persen pada Februari 2026. Namun dibalik statistik yang diumumkan Badan Pusat Statistik, denyut harga di Tanah Rencong justru menyisakan paradoks. Bawang merah dan cabai rawit jatuh, tapi inflasi tahunan melonjak hingga 6,79 persen. Dapur boleh sedikit lega hari ini, tapi dompet tetap tercekik oleh lonjakan setahun terakhir.
Kepala BPS Provinsi Aceh Agus Andria membeberkan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi motor deflasi bulanan terdalam: minus 0,96 persen, dengan andil 0,38 persen terhadap deflasi total. Biang keladinya? Bawang merah dan cabai rawit yang terperosok harga, disusul bahan bakar rumah tangga, telur ayam ras, hingga ikan tongkol.
“Beberapa komoditas memengaruhi deflasi bulanan yaitu bawang merah, cabai rawit, bahan bakar rumah tangga, telur ayam ras, dan ikan tongkol,” kata Agus, Senin (2/3/2026).
Namun euforia itu cepat buyar. Disaat cabai rawit merunduk, tomat justru menanjak. Emas perhiasan berkilau makin mahal. Udang basah, cabai merah, hingga sigaret kretek mesin (SKM) ikut mengerek harga. Deflasi disatu sisi, inflasi di sisi lain, seperti tarik-menarik yang tak pernah usai dipasar tradisional.
Inflasi Tahunan: Luka Lama yang Belum Sembuh
Secara tahunan, Aceh mencatat inflasi 6,79 persen pada Februari 2026. Artinya, harga barang dan jasa rata-rata melonjak hampir 7 persen dibanding Februari tahun lalu. Ini bukan angka kecil bagi rumah tangga berpenghasilan tetap.
Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga menjadi penyumbang inflasi tahunan tertinggi dengan andil 2,37 persen. Tarif listrik, emas perhiasan, beras, nasi dengan lauk, hingga daging ayam ras menjadi aktor utama kenaikan.
Ironisnya, komoditas yang bulan ini membantu deflasi seperti cabai rawit, secara tahunan tetap tercatat sebagai penahan laju inflasi, bersama bensin, kentang, dan cabai hijau. Harga bergerak liar, tak selalu sejalan dengan nalar sederhana.
Lima Kota, Lima Cerita
Penghitungan inflasi dilakukan dilima daerah. Banda Aceh, Lhokseumawe, Meulaboh, Aceh Tengah, dan Aceh Tamiang.
Secara tahunan, seluruhnya kompak mengalami inflasi. Yang tertinggi, Aceh Tengah, menembus 8,44 persen, angka yang membuat daya beli terengah. Terendah, Aceh Tamiang, 6,34 persen, tetap jauh dari kata ringan.
Secara bulanan (m-to-m), peta berubah. Meulaboh dan Banda Aceh justru mencatat inflasi, dengan Meulaboh tertinggi 0,48 persen. Sementara tiga daerah lain terperosok ke zona deflasi. Aceh Tamiang menjadi yang terdalam, minus 1,64 persen, angka yang tampak “sehat” dikertas, namun bisa berarti tekanan disisi produsen dan petani.
Dapur Rakyat dan Alarm Kebijakan
Deflasi kerap dipuji sebagai kabar baik. Tapi bagi petani bawang dan cabai, harga jatuh adalah mimpi buruk. Sebaliknya, inflasi tahunan yang tinggi menggerus daya beli masyarakat kota. Disatu sisi pasar lesu, disisi lain kebutuhan pokok terus merangkak naik.
Aceh kini berdiri dipersimpangan, harga pangan yang fluktuatif, biaya perumahan yang membubung, dan daya beli yang tergerus inflasi tahunan.
Deflasi Februari mungkin sekadar jeda pendek, bukan akhir dari tekanan panjang yang menghantui meja makan rakyat.
Angka 0,24 persen itu kecil. Tapi cerita dibaliknya jauh dari sederhana.(misn’t)






Discussion about this post