INformasinasional.com, Bulukumba – Pagi di Desa Bulolohe, Kecamatan Rilau Ale, Kabupaten Bulukumba, Kamis (12/3/2026), terasa berbeda dari biasanya. Di aula kantor desa, puluhan kader desa berkumpul dengan harap yang selama tiga bulan terakhir menggantung.
Hari itu, penantian mereka akhirnya terjawab.
Pemerintah Desa Bulolohe resmi menyalurkan insentif yang sempat tertunda sejak Oktober hingga Desember 2025.
Penyerahan dilakukan secara terbuka dihadapan masyarakat dan sejumlah pihak terkait sebagai bentuk transparansi setelah munculnya dugaan penggelapan dana oleh oknum bendahara desa.
Di ruangan sederhana itu, satu per satu nama dipanggil. Wajah-wajah yang selama ini menunggu dengan sabar akhirnya menerima hak mereka.
Persoalan ini bermula ketika sejumlah kader desa mengaku belum menerima insentif mereka selama tiga bulan terakhir tahun 2025. Padahal dana tersebut diketahui telah dicairkan.
Keluhan para kader kemudian memicu perhatian publik dan mendorong pemerintah daerah turun tangan. Tim Inspektorat Kabupaten Bulukumba bahkan mendatangi kantor Desa Bulolohe pada Kamis (5/3/2026) untuk melakukan pengumpulan data awal serta meminta keterangan dari pihak-pihak terkait.
Keterlambatan pembayaran ini diduga berkaitan dengan tindakan oknum bendahara desa yang disebut-sebut mencairkan dana namun tidak menyalurkannya sebagaimana mestinya.
Penyaluran insentif berlangsung terbuka di aula kantor desa dan dihadiri berbagai unsur masyarakat.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Irban II Inspektorat Bulukumba Andi Herdi, Kepala Desa Bulolohe Abdul Rasyid Nain, Ketua BPD, tokoh pemuda, tokoh agama, para ketua RT/RW, serta masyarakat setempat.
Puluhan kader desa yang menerima insentif terdiri dari kader posyandu, RT/RW, guru TPA hingga imam dusun.
Adapun rincian honorarium yang dibayarkan yaitu:
Kader Posyandu: 19 orang selama tiga bulan sebesar Rp13.680.000
RT dan RW: 37 orang selama tiga bulan sebesar Rp13.665.000
Guru TPA: 9 orang selama tiga bulan sebesar Rp3.780.000
Imam Dusun: 5 orang selama dua bulan sebesar Rp832.000
Staf Desa: 2 orang selama satu bulan sebesar Rp1.000.000
Total anggaran yang disalurkan mencapai Rp33.957.000.
Pembayaran dilakukan secara langsung di hadapan para kader desa dan tamu undangan untuk memastikan prosesnya berlangsung transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.
Kepala Desa Bulolohe Abdul Rasyid Nain menjelaskan, pembayaran insentif yang sempat tertunda dapat dilakukan setelah adanya itikad baik dari keluarga bendahara desa.
“Alhamdulillah hari ini ada itikad baik dari saudara kandung bendahara desa untuk mengembalikan dan menyerahkan uang insentif kepada kami. Total yang kami terima Rp33.957.000,” ujar Abdul Rasyid di hadapan para kader desa, kamis (12/03/2026).
Dana tersebut diserahkan oleh Sappewali, kakak kandung bendahara desa yang mewakili pihak keluarga.
Kepala desa juga menyampaikan apresiasi atas langkah tersebut meskipun persoalan dana desa secara keseluruhan masih dalam proses pemeriksaan.
“Kami menghormati itikad baik dari keluarga bendahara desa yang mengembalikan uang untuk insentif kader desa yang sempat tertunda. Sementara untuk dana desa lainnya yang diduga tercairkan oleh bendahara, kami serahkan sepenuhnya kepada pihak inspektorat untuk didalami,” katanya.
Sebelumnya, kasus ini sempat ramai diperbincangkan di masyarakat karena dugaan total dana desa yang disalahgunakan diperkirakan mencapai lebih dari Rp200 juta.
Inspektorat Masih Dalami Dugaan Kerugian lainnya
Irban II Inspektorat Bulukumba, Andi Herdi, membenarkan bahwa pembayaran insentif kader desa yang tertunda telah diselesaikan setelah dana dikembalikan oleh pihak keluarga bendahara.
“Betul, hari ini dilakukan penyaluran pembayaran insentif kader desa yang tertunda sejak tiga bulan terakhir di tahun 2025,” ujarnya.
Namun, menurutnya proses pemeriksaan belum selesai. Inspektorat masih akan mendalami dugaan persoalan dana desa lainnya untuk memastikan besaran kerugian yang mungkin terjadi.
“Kami masih akan mendalami dana lainnya yang diduga bermasalah. Kami juga berharap oknum bendahara desa dapat hadir untuk dimintai keterangannya,” jelasnya.
Bagi para kader desa, hari itu bukan sekadar penyerahan uang. Ia menjadi penutup dari penantian panjang sekaligus bukti bahwa suara mereka akhirnya didengar.
Salah seorang kader posyandu mengaku bersyukur karena insentif yang mereka tunggu akhirnya dibayarkan.
“Kami berterima kasih kepada pemerintah desa yang terus mencari solusi sehingga insentif kami bisa dibayarkan hari ini,” ujarnya.
Sementara itu, Sappewali yang mewakili keluarga bendahara desa menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas permasalahan yang terjadi.
Ia mengaku hingga kini pihak keluarga tidak mengetahui keberadaan adiknya.
“Kami mewakili keluarga meminta maaf atas permasalahan ini. Sampai sekarang adik kami tidak ada komunikasi lagi dan keberadaannya pun kami tidak tahu. Tapi kami akan bertanggung jawab atas hal ini,” katanya kepada awak media usai menyerahkan dana tersebut.
Ditengah aula desa yang sederhana, penyerahan insentif itu menjadi lebih dari sekadar transaksi keuangan. Ia menjadi pengingat bahwa di balik administrasi desa, ada harapan masyarakat yang harus dijaga, dan kepercayaan publik yang tak boleh lagi dikhianati.
Reporter: Sapriaris






Discussion about this post