INformasinasional.com*
BEKASI – Suhu politik pers Indonesia memuncak! Jumat (29/8/2025), Gedung BPPTIK Kementerian Komdigi, Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat resmi menjadi episentrum pertarungan besar para jurnalis se-Indonesia. Ratusan wartawan anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dari 39 provinsi tumpah ruah, membawa 81 suara hak pilih yang akan menentukan wajah baru organisasi pers tertua dinegeri ini.
Atmosfer tegang bercampur euforia sudah terasa sejak Kamis malam. Dari Sumatera Utara, Sulawesi Tenggara, Kepulauan Riau, Riau, hingga DIY, rombongan peserta berdatangan, sebagian bahkan sengaja hadir lebih awal untuk memastikan tak kehilangan momentum politik. Mereka datang bukan hanya untuk bersidang, tetapi juga untuk memastikan kepentingan, arah perjuangan, bahkan masa depan PWI tidak lagi terjebak dalam dualisme kepengurusan yang selama ini mencabik tubuh organisasi.
“Gladi resik sudah rampung, seluruh elemen panitia hadir. Kesiapan mutlak, sebab kongres kali ini bukan sekadar pemilihan, melainkan momen persatuan wartawan Indonesia,” tegas Humas Panitia Kongres, Mercys Charles Loho.
Gladi resik yang digelar Kamis (28/8/2025) sejatinya tak hanya persiapan teknis. Kehadiran tokoh penting seperti Sekretaris Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kementerian Komdigi RI, Fery Radian Wicaksono, bersama Ketua Steering Committee (SC) Zugito, Ketua Organizing Committee (OC) Raja Parlindungan Pane, dan Sekretaris Panitia TB Adhi, sejatinya memberi pesan jelas. Pemerintah ikut mengawal jalannya kongres agar tidak terjebak intrik liar.
“Suasana kongres harus tertib, khidmat, dan berwibawa. Jangan sampai forum terhormat ini berubah menjadi arena gaduh,” tegas Zugito, menatap serius para panitia.
Namun, dibalik panggung formal itu, bisik-bisik politik sudah terdengar. Kabarnya, dua kandidat kuat Ketua Umum PWI yang selama ini menjadi simbol dualisme kepengurusan kembali berhadap-hadapan. Mereka membawa loyalis masing-masing, dan tensi politik diperkirakan akan meletup saat pemilihan ketua umum.
Bukan tanpa alasan panitia meminta pengawalan ekstra ketat. Sejak jauh hari, koordinasi telah dijalin dengan Polda Metro Jaya, Polres Metro Bekasi, hingga Danrem. “Kami tidak ingin kongres ini ternodai kericuhan. Semua skenario pengamanan sudah disiapkan,” ujar Mercys.
Konon, intelijen kepolisian juga ikut mengawasi pergerakan kelompok-kelompok pendukung kandidat untuk mengantisipasi gesekan. Sebab, sejarah mencatat, beberapa kongres PWI sebelumnya kerap diwarnai adu mulut hingga aksi walk out yang membuat citra organisasi tercoreng.
Panitia menyediakan 80 kamar penginapan eksklusif didalam BPPTIK Cikarang. Namun, banyak peserta justru memilih hotel-hotel diluar area kongres. Alasannya sederhana, ruang gerak untuk melobi lebih leluasa.
Sumber internal panitia membisikkan bahwa sejak malam tadi, sejumlah lobi kamar sudah terjadi. Perebutan kursi Ketum PWI tak ubahnya seperti laga politik partai besar.
Panitia berjanji, kongres kali ini berbeda. Demi menjaga transparansi, jalannya sidang bisa disaksikan langsung melalui live streaming YouTube PWI. Namun, sejumlah pengamat pers mempertanyakan, apakah live streaming itu mampu menembus ruang-ruang gelap lobi politik dibalik layar?
Panggung bisa ditonton publik, tapi pertarungan sesungguhnya terjadi dibalik pintu tertutup. Disitulah arah PWI lima tahun kedepan ditentukan.
Dengan mengusung tema “Bangkit Bersatu”, kongres 29–30 Agustus 2025 ini digadang sebagai momentum penyatuan kembali. PWI yang lahir sejak 1946, organisasi pers legendaris, kini dipaksa menegakkan kembali marwahnya setelah tercabik perpecahan.
Namun, pertanyaan besar menggantung diudara Cikarang, benarkah kongres ini menjadi arena rekonsiliasi? Ataukah justru babak baru pertarungan kursi yang lebih keras, lebih panas, dan lebih tajam?
Jurnalis senior, pengamat media, hingga publik luas kini menanti dengan degup jantung. Hanya ada dua kemungkinan yang lahir dari kongres akbar ini. Lahirnya PWI tunggal yang solid atau drama politik internal yang semakin mempermalukan organisasi pers.
“Besok pagi dan siang peserta dari seluruh Indonesia akan memadati gedung ini. Antusiasme tinggi adalah tanda, tapi jangan lupa, antusiasme juga bisa melahirkan ledakan jika tidak dikelola dengan bijak,”pungkas Mercys Charles Loho dengan nada penuh kewaspadaan.
Dan kini, Cikarang menjadi panggung utama. Dibalik spanduk bertuliskan “Bangkit Bersatu”, tersimpan pertarungan dingin yang bisa jadi menentukan apakah PWI benar-benar pulih atau makin runtuh.*
(Penulis: Misno/Pemimpin Redaksi)