INformasinasional.com, Jakarta — Koruptor tak lagi kikuk membawa tas berisi uang dan bertemu disudut parkiran. Mereka kini bekerja lebih rapi, berlapis, dan nyaris tanpa sentuhan.
Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Setyo Budiyanto mengakui, wajah korupsi telah berubah, dan operasi tangkap tangan (OTT) pun tak lagi sesederhana dulu.
Dalam rapat kerja bersama Komisi III DPR RI, Rabu (28/1/2026), Setyo membuka peta baru modus korupsi yang tengah dihadapi lembaganya. Transaksi langsung face to face, yang dulu menjadi ciri khas kini tergantikan oleh skema layering, perantara berlapis, alur berputar, dan jejak yang sengaja dikaburkan.
“OTT sekarang prosesnya sudah beralih. Modusnya berubah,” kata Setyo. Ia menegaskan, praktik serah terima uang secara fisik semakin jarang. Koruptor memilih jalur aman, orang ke orang, tangan ke tangan, tanpa pertemuan langsung dengan penerima manfaat utama.
Perubahan itu memaksa KPK menajamkan strategi. Setyo menjelaskan, OTT tak lagi dimulai dari adegan penangkapan semata, melainkan dari laporan masyarakat yang ditindaklanjuti lewat penyelidikan tertutup. Dari sana, benang kusut transaksi diurai, perlahan, diam-diam.
“Nah dari proses penyelidikan tertutup itulah kemudian terhadap pelaku yang tertangkap tangan kami lakukan penindakan,” katanya.
Kunci operasi ada pada waktu. Dalam tenggat 1×24 jam setelah penangkapan, KPK memeras setiap detik untuk memburu mata rantai lain yang terlibat. Bukan hanya pelaku digaris depan, tapi juga aktor dibalik layar yang bersembunyi dibalik lapisan perantara.
Menurut Setyo, tak semua pihak yang dijerat OTT tertangkap basah sedang bertransaksi. Namun itu tak berarti mereka bersih. “Ada bukti-bukti lain yang mendukung bahwa yang bersangkutan merupakan bagian dari satu rangkaian perbuatan,” katanya.
Pernyataan ini sekaligus menjadi sinyal: OTT bukan sekadar soal siapa yang tertangkap memegang uang, melainkan siapa yang berada dalam orkestrasi kejahatan. Dalam skema berlapis, aktor utama justru kerap berdiri paling jauh dari barang bukti.
Ditengah korupsi yang makin canggih, pengakuan KPK ini terasa seperti peringatan keras, permainan kotor tak lagi kasat mata, dan perang melawannya menuntut kecermatan lebih dari sekadar kecepatan tangan.
Permainan korupsi gaya baru ini sebetulnya sudah sejak tahunan berlangsung, tetapi baru kali ini diendus KPK. Seperti di Langkat, Sumatera Utara, Bekasi dan daerah lainnya di tanah air.
Menurut KPK, daerah yang memiliki masa kelam ditangani KPK yakni di Langkat.(misn’t)






Discussion about this post