Oleh: Mhd Zaid P. Lubis, ST
INFORMASINASIONAL.COM*
SAAT daerah lain berlomba menyalakan langit dengan kembang api, Langkat memilih memadamkannya. Tak ada pesta. Tak ada euforia. Pergantian tahun dinegeri berjuluk Lancang Kuning Bumi Bertuah justru ditandai lantunan zikir akbar yang menggema dari alun-alun.
Ribuan warga bersujud, seolah ingin berkata, dalam duka yang panjang, hanya doa dan kebersamaan yang tersisa.
Pilihan itu bukan tanpa sebab. Akhir 2025, Langkat baru saja dihantam prahara. Air bah datang tanpa ampun, meluluhlantakkan rumah, jalan, jembatan, dan sendi-sendi kehidupan. Puluhan ribu warga terpaksa mengungsi. Ekonomi lumpuh. Aktivitas nyaris berhenti. Negeri tua berusia 275 tahun itu kembali diuji ketahanannya.

Banjir bandang bukan sekadar bencana alam. Ia membuka borok klasik, rapuhnya infrastruktur, ketergantungan distribusi, dan lambannya sistem yang sering baru bergerak setelah kerusakan tak terelakkan. Listrik padam berhari-hari. Jaringan seluler mati. BBM langka karena akses distribusi terputus dan SPBU ikut terendam. Dalam kondisi seperti itu, negara kerap terasa jauh, kecuali bagi mereka yang benar-benar turun kelapangan.
Di Langkat, figur itu hadir dalam sosok Bupati Syah Afandin. Meski sakit, ia berkeliling dari satu titik bencana ketitik lain. Menyaksikan langsung tanggul jebol, ternak mati, rumah hanyut, dan warga yang hanya bisa bertahan dengan sisa-sisa harapan. Ia datang bukan sekadar membawa rompi dinas dan kamera dokumentasi, tetapi memastikan logistik bergerak, dapur umum menyala, dan pengungsian tidak dibiarkan sunyi.
Dalam situasi krisis, kepemimpinan tak diuji lewat pidato, melainkan lewat kehadiran. Dan di Langkat, kehadiran itu menjadi energi moral bagi warga yang nyaris putus asa. Gotong royong kembali hidup. Relawan bergerak. Aparatur dipaksa bekerja melampaui jam kantor. Negeri bertuah ini bertahan bukan karena sistem yang sempurna, melainkan karena solidaritas yang dipaksa bangkit oleh keadaan.
Namun Langkat bukan hanya tentang duka.
Menjelang tutup tahun, ribuan putra-putri daerah berseragam putih hitam memenuhi Lapangan Alun-alun Tengku Amir Hamzah, Stabat. Lebih dari 3.000 orang resmi dilantik sebagai PPPK Paruh Waktu. Tangis haru pecah. Bagi mereka, ini bukan sekadar pengangkatan status, tetapi pengakuan negara atas pengabdian yang lama menggantung tanpa kepastian.

Dinegeri yang baru saja digulung banjir, kabar ini menjadi penanda penting: bahwa setelah kehancuran, selalu ada ruang untuk memulai ulang. Bahwa negara, meski sering terlambat, masih bisa hadir memberi harapan.
Langkat menutup tahun tanpa pesta, tetapi dengan pesan yang lebih keras dari kembang api mana pun: negeri ini boleh dilanda bencana, boleh dilukai berkali-kali, tetapi tak pernah benar-benar menyerah.
Diantara lumpur dan air mata, Langkat tetap berdiri, dengan doa, kerja lapangan, dan keyakinan bahwa sejarah panjangnya belum selesai ditulis.*
(Penulis adalah: Wakil Pemimpin Redaksi II)






Discussion about this post