INformasinasional.com, Teheran — Jalur nadi energi dunia berubah menjadi medan tempur. Sedikitnya 10 kapal dagang dihantam rentetan serangan mematikan diperairan Selat Hormuz sejak pecah perang besar di Timur Tengah pada 28 Februari lalu. Laut yang biasanya sibuk oleh lalu lintas tanker minyak kini berubah mencekam, sunyi, tegang, dan mematikan.
Langkah Iran memblokir selat strategis itu sebagai balasan atas serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel, menciptakan efek domino yang menggetarkan pasar energi global. Hampir seluruh arus pelayaran terhenti. Dunia menahan napas.
Selat selebar beberapa puluh kilometer itu bukan sekadar jalur laut biasa. Disanalah sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair dunia melintas setiap hari. Ketika meriam dan drone mengambil alih cakrawala, kapal-kapal komersial berubah menjadi sasaran empuk.
Badan keamanan maritim Inggris, United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO), mencatat sedikitnya 10 peringatan serangan dan aktivitas mencurigakan dalam sepekan terakhir. Namun detail insiden masih ditutup rapat, menambah kabut ketidakpastian ditengah situasi yang sudah genting.
Data International Maritime Organization (IMO) memaparkan gambaran yang lebih muram. Sembilan serangan menghantam kapal-kapal sipil hanya dalam waktu sepekan. Empat diantaranya menelan korban jiwa, sedikitnya tujuh orang tewas.
Tiga kapal, Skylight, MKD Vyom, dan Stena Imperative, dihantam serangan brutal pada 2 Maret. Masing-masing insiden merenggut nyawa. Pada hari yang sama, kapal Hercules Star juga menjadi sasaran keganasan dijalur maut tersebut.
Gelombang teror berlanjut. Antara 3 hingga 5 Maret, empat kapal lain dihajar serangan, Libra Trader, Gold Oak, Safeen Prestige, dan Sonangol Namibe.
Laut Hormuz menjelma ladang perburuan.Puncaknya terjadi pada 6 Maret. Kapal Mussafah 2 diserang hebat. Sedikitnya empat orang dilaporkan tewas. Namun tragedi ini menyisakan teka-teki lintas negara.
Pemerintah Indonesia mengumumkan kapal dengan ciri dan posisi yang identik dengan Mussafah 2 telah tenggelam dua hari sebelumnya, dengan data korban berbeda. Tiga warga negara Indonesia dilaporkan hilang. Satu WNI selamat namun luka-luka. Empat awak kapal lainnya selamat.
Perbedaan data ini memunculkan pertanyaan serius tentang simpang siur informasi ditengah kabut perang.
Sementara itu, perusahaan analisis pelayaran global Kpler yang mengoperasikan platform MarineTraffic mencatat lalu lintas tanker anjlok drastis hingga 90 persen hanya dalam sepekan. Jalur vital energi dunia nyaris lumpuh total.
Data pelacakan menunjukkan hanya sembilan kapal komersial, tanker, kargo, dan kontainer yang nekat melintasi selat sejak 2 Maret. Sebagian bahkan mematikan sistem pelacak, memilih “menghilang” demi menghindari incaran.
Joint Maritime Information Center (JMIC) menyebut pola serangan menunjukkan operasi sistematis untuk menciptakan teror dan ketidakpastian, bukan semata menenggelamkan kapal. Targetnya jelas, melumpuhkan pergerakan dagang rutin dan mengirim sinyal ancaman terbuka kepasar global.
Ketika Selat Hormuz terbakar, dunia merasakan getarannya. Harga energi terancam melonjak, rantai pasok global tercekik, dan ketegangan geopolitik memasuki babak paling berbahaya dalam satu dekade terakhir.
Laut tak lagi menjadi jalur dagang. Ia kini panggung perang yang mempertaruhkan stabilitas ekonomi dunia.(Misn’t)






Discussion about this post