INformasinasional.com, Nias Selatan — Ditengah hiruk-pikuk zaman yang kerap merapuhkan sendi kebersamaan, Barisan Merah Putih (BMP) bersama Ikatan Masyarakat Nias Utara (IKMANIRA) Kabupaten Nias Selatan memilih berhenti sejenak, merenung, bersyukur, lalu meneguhkan tekad. Perayaan Natal 2025 dan Syukuran Tahun Baru 2026 digelar di Wallo Green, Sabtu pagi (17/1/2026), dengan tema “Allah Hadir Menyelamatkan Keluarga” (Matius 1:21–24).
Subtema yang diusung tak kalah tegas: memperkuat persatuan dan karya bersama. Sebuah pernyataan sikap di hadapan realitas sosial yang menuntut solidaritas lebih dari sekadar slogan.
Acara itu dihadiri lintas elemen: tokoh gereja, unsur pemerintah, TNI–Polri, hingga masyarakat sipil. Tampak Pdt. Dr. Octaviusta Bangun, M.Th., M.Min; Pdm. Jini Arianto Nazara, SE., S.Th; Pdt. Marieli Zega, S.Th; perwakilan Pemkab Nias Selatan; mantan Wakil Bupati Firman Giawa, S.H., M.H; perwakilan Kejaksaan Negeri; Kepala Dinas Pendidikan Nurhayati Telaumbanua; Danlanal Nias; Danramil Telukdalam Mayor Inf. Yustinus Waruwu, SE; Kapolres Nias Selatan; serta jajaran BMP–IKMANIRA, insan pers, dan LSM.
Puncak refleksi datang dari Pembina BMP dan IKMANIRA, Dr. Yasatulo Lase, SE., MA., M.A.P., CPHRM., HRBP., HRMP. Dengan yel-yel khas“BMP: Berkumpul, Bersatu, dan Bergerak” serta “Ikmanira Aine Faohe Tanga”, ia menegaskan perjalanan enam tahun dua organisasi itu bukan sekadar hitung umur, melainkan rekam jejak kemanusiaan.
“Visi kemanusiaan tidak berhenti di mimbar,” kata Yasatulo. Ia menyebut bukti konkret: pembangunan 11 rumah layak huni, rumah ke-10 bertepatan HUT Polri, rumah ke-11 pada HUT Danlanal Nias. Bagi Yasatulo, capaian itu adalah hasil kebersamaan yang menolak menyerah, bukan kerja satu-dua orang.
Ia menegaskan perayaan Natal dan syukuran akan menjadi agenda tahunan, ruang merawat persaudaraan di tengah dinamika organisasi. Ada anggota yang berpulang, ada pula yang datang. Namun maknanya satu: bertumbuh.
“Logo kita adalah tangan yang saling menggenggam,” ujarnya. “Semakin erat genggaman, semakin kokoh kita mewujudkan misi kemanusiaan.”
Pesan yang ia titipkan lugas: jangan lupa kasih Tuhan, dan jadikan hidup berguna bagi sesama. Ia mengajak anggota untuk berjalan beriringan—tanpa saling mendahului, tanpa saling meninggalkan. Pepatah Nias pun dikutipnya, menegaskan nilai persatuan dan gotong royong sebagai napas perjuangan.
“Sebelas rumah yang dulu tak layak, kini berdiri bermartabat,” katanya. “Bukan karena kehebatan kita, melainkan karena kebersamaan dan pertolongan Tuhan.”
Menutup sambutan, Yasatulo menyampaikan pesan reflektif yang menyentil nurani.
“Jika ada jarum yang patah, jangan disimpan dalam peti; jika ada kata yang salah, jangan disimpan dalam hati.”
Perayaan Natal dan Syukuran Tahun Baru BMP–IKMANIRA Kabupaten Nias Selatan pun berakhir dengan tertib, aman, dan penuh sukacita, meninggalkan pesan jelas: iman dirawat, persatuan dijaga, karya kemanusiaan dilanjutkan.
Reporter: Mareti Tafonao






Discussion about this post