INformasinasional.com, MEDAN – Ditengah suhu politik nasional yang kian memanas, Kodam I/Bukit Barisan menunjukkan sikap tegas. Minggu (31/8/2025), Pangdam I/BB Mayjen TNI Rio Firdianto menggelar doa lintas agama bersama tokoh masyarakat, mahasiswa, pemuda, hingga anak yatim piatu di Makodam I/BB, Medan.
Acara ini bukan sekadar doa, melainkan deklarasi besar. Rakyat dan TNI bersatu menjaga Sumatera Utara tetap aman dari ancaman provokasi dan kekacauan nasional.
“Kami hadirkan tokoh lintas agama, mahasiswa, pemuda, semua bersatu berdoa. Sumut tidak boleh rusuh! Indonesia harus tetap damai!” kata Pangdam dengan suara tegas, disambut tepuk tangan yang hadir.
Dalam pernyataan kerasnya, Pangdam Rio menegaskan, kebebasan rakyat untuk menyampaikan aspirasi tetap dijamin. Namun, garis merahnya jelas, tidak boleh ada kekerasan, tidak boleh ada perusakan, dan tidak boleh ada anarki
“Silakan menyampaikan aspirasi. Kami tidak akan menghalangi! Tapi ingat, lakukan dengan bermartabat. Jangan rusak fasilitas rakyat, jangan provokasi massa. Kalau itu terjadi, yang rugi seluruh masyarakat,” tegasnya.
Pesan itu seolah menjadi peringatan dini, Sumut tidak boleh terseret dalam arus kegaduhan politik nasional.
TNI Siaga 1: Objek Vital Dijaga Ketat
Tak hanya bicara, Pangdam langsung turunkan pasukan. Seluruh objek vital kini berada dalam pengawasan ketat prajurit Kodam I/BB. Gedung DPRD, kantor pemerintahan, SPBU, gudang sembako, hingga fasilitas publik lainnya dipastikan aman.
“Kami tidak akan memberi ruang bagi penjarahan dan perusakan. Sumut harus tetap aman! Indonesia tidak boleh kacau!” tandasnya lagi.
Acara doa bersama dihadiri tokoh agama dari Islam, Kristen, Katolik, Hindu, hingga Buddha. Para mahasiswa dari kelompok Cipayung Plus juga berdiri dibarisan depan.
Mereka bersatu, menanggalkan perbedaan, dan mengirimkan pesan keseluruh Indonesia. Rakyat Sumut menolak anarki!
Seorang tokoh agama menambahkan, “Doa ini adalah perisai kita. Indonesia tidak boleh terpecah hanya karena kepentingan sesaat.”
Mayjen Rio menutup doa bersama itu dengan nada menggelegar. Kata-katanya menjadi alarm keras bagi pihak-pihak yang mencoba mengacaukan negeri:
“Sumut tidak boleh terbakar oleh api provokasi! Tidak boleh ada penjarahan, tidak boleh ada anarki, tidak boleh ada yang mengganggu kehidupan rakyat. Siapa pun yang berani, akan berhadapan dengan kami!” Tegas Pangdam I/BB.
Malam itu, doa lintas agama di Makodam I/BB bukan sekadar seremoni. Ia menjelma menjadi pesan nasional. TNI bersama rakyat, menjaga Indonesia tetap kokoh.
Satu suara, satu doa, satu tekad. “Sumatera Utara aman, Indonesia damai, tidak ada ruang bagi anarki!” (Misno)