INformasinasional.com, LANGKAT — Halaman rumah dan lingkungan usaha Ardiansyahputra Ismail siang itu tak lagi lengang. Ratusan warga, didominasi kaum ibu, berkerumun dengan wajah penuh harap. Ditengah suasana yang riuh namun hangat, 1.200 paket sembako berpindah tangan, dari seorang tokoh muda Langkat kepada masyarakat disekitarnya, Kamis (11/2/2026).
Beras, minyak goreng, dan susu tersusun rapi sebelum dibagikan. Bukan seremoni mewah, melainkan aksi sosial yang diklaim lahir dari tradisi keluarga. Ardiansyahputra, pengusaha pengolahan minyak kelapa sawit (CPO) itu, menyebut berbagi sebagai amanah almarhum ayahandanya.
“Berbagi tidak harus menunggu kita berlebih rezeki. Selama Allah masih memberi, saat itu pula kita terpanggil,” katanya, dengan nada tenang namun tegas.
Ia menambahkan, setiap rezeki yang diterima seseorang, diyakininya mengandung hak orang lain. “Kalau itu kita ingkari, bisa tergolong khianat. Ini bukan soal ingin dipuji. Berbagi adalah seruan syariat,” katanya lagi.
Pernyataan itu disampaikan dihadapan puluhan pengurus lintas organisasi yang turut menyaksikan penyerahan bantuan. Hadir unsur Banom Al Washliyah, Nahdlatul Ulama, organisasi kemahasiswaan seperti KAMMI dan GMNI Mapancas, hingga organisasi kepemudaan seperti Satma AMPI, IPK, dan AMPI. Kehadiran mereka membuat kegiatan itu bukan sekadar aksi sosial, melainkan juga panggung solidaritas lintas kelompok.
Ditengah dinamika sosial dan ekonomi yang kerap menekan masyarakat lapisan bawah, langkah semacam ini tentu menghadirkan oase. Namun lebih dari itu, kegiatan tersebut seperti menyodorkan satu pertanyaan sunyi: bagaimana bila kepedulian serupa tumbuh lebih luas?
Bayangkan, jika di Kabupaten Langkat ada seratus figur dengan komitmen yang sama, mungkin cerita tentang warga kesulitan memenuhi kebutuhan pokok tak lagi menjadi kabar yang berulang. Kedermawanan bukan sekadar peristiwa musiman, melainkan gerakan kolektif.
Diujung kegiatan, suasana perlahan mencair. Paket-paket sembako telah terbagi, kerumunan menyusut, namun pesan yang ditinggalkan tetap menggema: bahwa kesejukan sosial lahir dari kesadaran batin, bukan dari kelimpahan semata.
Sebab pada akhirnya, seperti ungkapan yang kerap terdengar ditengah masyarakat, “Orang pelit saja tak menyukai orang pelit.” Sebuah sindiran halus sekaligus cambuk moral agar kepedulian tak berhenti pada satu nama, melainkan menjadi budaya.(Misnoadi)






Discussion about this post