INformasinasional.com, LANGKAT — Ditengah kegelisahan publik atas kian menipisnya etika generasi muda, Pemerintah Kabupaten Langkat memilih merapatkan barisan. Ratusan Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dikumpulkan dalam satu forum: buka puasa bersama yang sarat pesan politik moral dan komitmen anggaran.
Bupati Langkat yang diwakili Sekretaris Daerah Kabupaten Langkat, H Amril SSos MAP, hadir membuka kegiatan yang digelar di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Langkat, Jumat (20/2/2026). Agenda itu tak sekadar seremoni. Ia dirangkai khataman Al-Qur’an sekaligus menjadi panggung apresiasi atas gelontoran dana APBD bagi guru PAI untuk mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG).
Namun yang lebih menggelitik adalah pernyataan Sekda Amril. Ia tak berbasa-basi. Dihadapan ratusan guru, ia menyinggung gejala sosial yang kian mengkhawatirkan.
“Diera sekarang, nilai agama mulai tergerus. Saya minta para guru membantu anak-anak kita meningkatkan kembali nilai agama sebagai pedoman dalam kehidupan mereka,” katanya.
Pernyataan itu seperti alarm keras. Ditengah arus digitalisasi, pergaulan bebas, dan krisis keteladanan, pemerintah daerah tampaknya ingin menempatkan guru PAI sebagai benteng terakhir.
Amril menegaskan, peran guru PAI bukan sekadar mengajar teori ibadah, melainkan membentuk karakter. Ia menyambungkan pesan itu dengan visi Bupati Langkat untuk mewujudkan Langkat religius, sebuah jargon yang kini diuji realisasinya.
Momentum Ramadan, kata Amril, harus menjadi ruang refleksi. “Semoga kita menjadi umat yang terus memperbaiki diri agar menjadi insan yang lebih baik kedepannya,” kata Amril lagi.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Langkat, H Ainul Aswad MA, tak menyembunyikan rasa bangganya. Ia menyebut komitmen Pemkab Langkat bukan perkara lazim.
“Tidak semua pemerintah daerah mau mendukung guru-guru agama Islam didaerahnya,” katanya, tegas.
Data yang dipaparkan Ainul Aswad bukan angka kecil. Sejak 2021 hingga 2026, lebih dari Rp1,5 miliar dana APBD telah dikucurkan untuk membantu ribuan guru PAI mengikuti PPG. Ditengah banyak daerah yang masih bergulat dengan prioritas infrastruktur dan belanja rutin, Langkat memilih menyuntik sektor pendidikan agama.
“Ini patut diapresiasi. Semoga menjadi penyemangat bagi guru-guru Agama Islam untuk terus meningkatkan kualitas diri,” katanya.
Diakhir acara, simbol dukungan itu dipertegas lewat penyerahan penghargaan kepada Bupati dan Wakil Bupati Langkat atas komitmen mereka terhadap pengembangan guru PAI. Apresiasi itu sekaligus menjadi pengingat: komitmen anggaran dan retorika religius kini berjalan beriringan.
Pertanyaannya, mampukah suntikan Rp1,5 miliar dan retorika moral itu benar-benar menjawab tantangan zaman? Ataukah ia akan berhenti sebagai seremoni Ramadan yang khidmat, lalu dilupakan selepas takbir Idulfitri bergema?
Waktu yang akan menjawab. Namun untuk saat ini, Langkat memilih berdiri di garis depan, menggenggam kitab suci disatu tangan, dan APBD di tangan lainnya.(Misno)






Discussion about this post