INformasinasional.com — Ditengah hiruk-pikuk meja berbuka puasa yang kerap dipenuhi gorengan dan minuman manis berlebihan, semangka hadir nyaris tanpa suara. Ia sederhana, murah, dan sering dipandang remeh. Namun justru disanalah kekuatannya bekerja, memulihkan tubuh yang kehausan setelah lebih dari setengah hari berpuasa.
Buah berkulit hijau dan berdaging merah ini menyimpan kandungan air hingga 91–92 persen. Angka yang menjadikannya salah satu sumber rehidrasi alami paling efektif saat berbuka puasa tahun 2026. Saat tubuh kehilangan cairan, elektrolit, dan energi, semangka datang bukan dengan sensasi sesaat, melainkan pemulihan bertahap yang bersahabat dengan sistem tubuh.

Tak sekadar melepas dahaga, semangka juga membawa gula alami yang mudah diserap. Energi kembali tanpa lonjakan berlebih, tanpa beban bagi pankreas. Vitamin A dan C yang dikandungnya turut menopang daya tahan tubuh, sementara likopen, antioksidan kuat, bekerja diam-diam melindungi jantung dan sel-sel dari serangan radikal bebas.
Sistem pencernaan yang “tertidur” selama puasa pun tak luput dari manfaatnya. Kandungan serat dalam semangka membantu usus kembali bekerja perlahan, menghindarkan perut dari kejutan setelah seharian kosong. Kalium dan magnesium yang terkandung didalamnya menjaga keseimbangan cairan, menstabilkan detak jantung, sekaligus meredam pegal-pegal yang kerap muncul menjelang magrib.
Lebih jauh, sifat diuretik ringan semangka membantu kerja ginjal membersihkan sisa metabolisme. Sebuah fungsi sunyi, tapi penting, ditengah pola makan Ramadan yang kerap tak terkendali.
Semangka mungkin bukan takjil yang “ramai” secara tampilan. Namun justru karena kesederhanaannya, ia menjadi pilihan rasional dan menyehatkan, dikonsumsi langsung, diolah menjadi jus tanpa gula tambahan, atau disandingkan dalam es buah.
Diantara ragam hidangan berbuka, semangka mengajarkan satu hal, kadang yang paling menyehatkan bukan yang paling menggoda, melainkan yang paling memahami kebutuhan tubuh.(misno adi)






Discussion about this post