INformasinasional.com, Medan — Belum genap dua belas bulan Bobby Nasution memimpin Sumatera Utara bersama Wakil Gubernur Surya, gelombang besar sudah menghantam jantung birokrasi Pemprov Sumut. Enam pejabat eselon II mundur. Delapan lainnya dicopot. Total 14 kursi elite bergeser, sebuah angka yang tak bisa disebut sekadar “penyegaran”.
Menjelang 20 Februari 2026, tepat setahun masa kepemimpinan Bobby, lanskap pemerintahan provinsi terbesar diluar Jawa itu berubah drastis. Mutasi, rotasi, pengunduran diri, hingga pencopotan menjadi menu rutin dalam dinamika setahun terakhir. Dibalik jargon “Kolaborasi Sumut Berkah”, terselip turbulensi yang tak kecil.
Enam Mundur, Delapan Dicopot
Enam kepala dinas memilih angkat kaki. Alasan yang mencuat beragam, keluarga, kesehatan, hingga melanjutkan pendidikan. Namun ditengah derasnya arus perubahan, publik mafhum bahwa setiap pengunduran diri pejabat tinggi tak pernah benar-benar steril dari konteks politik dan tekanan kinerja.
Mereka yang mundur antara lain, yakni Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Dr Ilyas Sitorus MPd.
Kepala Badan Keuangan dan Aset Daerah Muhammad Rahmadani Lubis MPd.
Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Dr Ir Hasmirizal Lubis MSi.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Razali SSos MSP.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Dr Hendra Dermawan Siregar.
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Energi dan Sumber Daya Mineral Fitra Kurnia SE MSi.
Sementara itu, delapan pejabat lainnya tak sekadar bergeser, mereka dicopot. Alasan resmi yang beredar, pelanggaran berat etika dan disiplin aparatur sipil negara (ASN). Frasa yang terdengar administratif, tapi menyimpan konsekuensi politik dan reputasi yang tak ringan.
Mereka yang dicopot antara lain,
Kepala Biro Pemerintahan dan Otonomi Daerah Harianto Butarbutar SE MSi.
Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Drs Juliadi Zurdani Harahap MSi.
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Ir Abdul Haris Lubis MSi.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Ilyas S Sitorus SE MPd.
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Energi dan Sumber Daya Mineral Mulyadi Simatupang SPi MSi.
Kepala Dinas Ketenagakerjaan Dr Drs M Ismael Parenus Sinaga MSi.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Hamdan Sukri Siregar SSos MM.
Direktur RSJ Prof M Ildrem Drs Ismail Lubis MM.
Beberapa nama bahkan muncul dalam dua daftar berbeda, menggambarkan betapa dinamis dan kerasnya arus restrukturisasi ditubuh birokrasi Sumut.
Penataan atau Pembersihan?
Bobby Nasution dalam berbagai kesempatan menegaskan bahwa penataan birokrasi adalah keniscayaan. Ia menginginkan figur-figur yang “seirama” dengan visi pembangunan Sumatera Utara yang unggul, maju, dan berkelanjutan. Ia juga menekankan pentingnya menempatkan orang yang tepat diposisi yang tepat, the right man on the right place.
Namun, publik tak hanya membaca angka. Empat belas pejabat eselon II dalam setahun adalah catatan yang mencolok. Disatu sisi, ini bisa ditafsir sebagai ketegasan, pesan bahwa era kompromi terhadap kinerja rendah telah lewat. Disisi lain, terlalu banyak pergantian juga berisiko mengguncang stabilitas organisasi dan memperlambat konsolidasi program.
Apalagi Sumut bukan provinsi kecil. Dengan kompleksitas wilayah, persoalan infrastruktur, kemiskinan, ketahanan pangan, hingga pelayanan kesehatan, setiap jabatan strategis memegang kendali atas hajat hidup jutaan warga.
Taruhan di Tahun Kedua.
Tahun pertama kerap disebut sebagai fase konsolidasi. Tahun kedua adalah ujian pembuktian. Apakah badai birokrasi ini akan berujung pada orkestrasi yang lebih solid? Atau justru menyisakan residu konflik dan ketidakpastian?
Yang jelas, Bobby Nasution telah mengirimkan satu pesan kuat, loyalitas tanpa kinerja tak cukup. Sumut, dalam visinya, bukan ruang nyaman bagi pejabat yang stagnan.
Kini masyarakat menunggu. Setelah kursi-kursi bergeser dan nama-nama berganti, apakah pelayanan publik membaik? Apakah pembangunan berlari lebih cepat?
Ditengah gejolak setahun pertama, satu hal pasti, kepemimpinan Bobby di Sumut tidak berjalan datar. Ia memilih jalur penuh risiko, mengguncang dari dalam demi membangun dari awal. Dan dalam politik birokrasi, setiap guncangan selalu menyisakan cerita.(misn’t)





Discussion about this post