INformasinasional.com-Pasaman Barat–Aliansi Mahasiswa Pasaman Barat (AMPB) menyoroti keras lemahnya fungsi pengawasan DPRD Pasaman Barat yang dinilai gagal sejak tahap perencanaan, pembahasan, hingga pelaksanaan anggaran. Kegagalan tersebut berujung pada munculnya Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (Silpa) yang mencapai miliaran rupiah.
Dalam pernyataan sikapnya, Koordinator AMPB, Ridho Kurnia menegaskan bahwa Silpa dalam jumlah besar bukanlah indikator keberhasilan pengelolaan keuangan daerah, melainkan bukti kuat gagalnya DPRD menjalankan fungsi konstitusionalnya sebagai lembaga pengawas eksekutif.
“DPRD terlibat penuh sejak tahap perencanaan hingga pengesahan APBD. Jika pada akhirnya anggaran tidak terserap dan menimbulkan Silpa miliaran rupiah, maka itu adalah bukti nyata lemahnya fungsi pengawasan DPRD,” tegas Ridho Kurnia, Selasa (27/1/2026) di Simpang Empat.
Dia menilai, sejak tahap perencanaan DPRD telah gagal memastikan bahwa program-program yang disusun benar-benar realistis serta berbasis pada kebutuhan riil masyarakat Pasaman Barat.
“DPRD Pasaman Barat seharusnya mengawal setiap rupiah uang rakyat agar berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat. Namun faktanya, anggaran justru mengendap, sementara persoalan infrastruktur, pendidikan, kesehatan, dan ekonomi masyarakat masih jauh dari kata tuntas,” lanjut Ridho.
Kondisi ini, menurutnya, mencerminkan krisis keberanian politik DPRD Pasaman Barat. Alih-alih bersikap kritis terhadap kinerja pemerintah daerah, DPRD justru terlihat permisif dan kehilangan daya tekan. Akibatnya, penyerapan anggaran tidak maksimal dan masyarakat kembali menjadi pihak yang dirugikan.
Dia juga menilai lemahnya pengawasan DPRD berpotensi menormalisasi praktik perencanaan yang asal-asalan serta pelaksanaan program yang tidak serius dari tahun ketahun.
Lebih lanjut, Ridho menegaskan bahwa DPRD Pasaman Barat telah gagal menjalankan mandat rakyat. Jika fungsi pengawasan terus dilemahkan, maka Silpa miliaran rupiah akan terus berulang dan pembangunan daerah hanya akan menjadi jargon politik semata.
Reporter: SYAFRIZAL






Discussion about this post