INformasinasional.com, JAKARTA — Tahun ajaran baru 2026 dibuka dengan ironi. Ditengah janji pemulihan pascabencana, sebanyak 54 sekolah di Sumatera yang luluh lantak diterjang banjir bandang dan longsor terpaksa memulai proses belajar-mengajar dibawah tenda darurat. Kerusakan sekolah itu tak sekadar retak atau bocor. Sebagian bangunan hancur total, tak lagi layak dipijak, apalagi dijadikan ruang kelas.
“Masih ada 54 sekolah yang belum bisa digunakan karena kerusakan sangat serius, bahkan ada yang rusak total,” kata Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti di Kantor BNPB, Jakarta Timur, Selasa (30/12/2025).
Tanpa gedung, tanpa papan tulis permanen, dan tanpa bangku sekolah yang layak, ribuan siswa diwilayah terdampak akan menimba ilmu ditenda pengungsian. Pemerintah menyiapkan 54 tenda darurat, yakni 14 di Aceh, 21 di Sumatera Barat, dan 19 di Sumatera Utara, sebagai ruang kelas sementara.
Mu’ti memastikan, meski berada dalam situasi darurat, hak anak untuk mengenyam pendidikan tetap berjalan saat tahun ajaran baru dimulai pada 5 Januari 2026.
“Namun tentu mereka tidak bisa belajar dalam kondisi normal,” katanya.
Normal memang jauh dari kata. Para siswa dibebaskan dari kewajiban berseragam dan bersepatu. Kurikulum pun disederhanakan, disesuaikan dengan kondisi psikologis dan keterbatasan sarana.
“Mereka boleh tidak pakai seragam, tidak pakai sepatu, dan kurikulumnya kami rancang secara khusus,” kata Mu’ti.
Sebagai penyangga darurat, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mengucurkan berbagai bantuan: 27.000 school kit, 5.500 untuk Aceh, 5.000 untuk Sumatera Barat, dan 6.500 untuk Sumatera Utara. Selain itu, 160 ruang kelas darurat disiapkan ditiga provinsi tersebut.
Pemerintah juga mengklaim telah menggelontorkan Dana Operasional Pendidikan Darurat sebesar Rp25 miliar. Namun, hingga kini, ruang-ruang belajar permanen belum berdiri, sementara anak-anak harus memulai masa depan mereka dibawah terpal bencana.
Ditengah janji rehabilitasi, tenda-tenda itu menjadi pengingat: pendidikan adalah yang pertama terdampak, dan sering kali yang terakhir dipulihkan.(Misn’t)






Discussion about this post