INformasinasional.com, Medan — Malam takbiran didepan Kantor Gubernur Sumatra Utara berubah menjadi panggung yang riuh, bantuan dibagi, massa berdesakan, dan pesan politik disisipkan disela-sela takbir yang menggema. Dibawah sorot lampu Jalan Diponegoro, Bobby Nasution berdiri berdampingan dengan Teddy Indra Wijaya, menyalurkan 2.500 paket bantuan yang disebut berasal dari Prabowo Subianto.
“Ini bingkisan dari Bapak Presiden untuk masyarakat Sumatera Utara,” kata Bobby, Jumat (20/3/2026).
Pernyataan itu singkat, tapi cukup untuk menegaskan, negara hadir, setidaknya malam ini.
Namun dibalik seremoni, situasinya jauh dari tertib. Ribuan warga, didominasi pengemudi ojek online dan kelompok berpenghasilan rendah berbondong-bondong memadati halaman kantor gubernur. Motor diparkir sembarangan ditepi jalan, gerbang utama nyaris lumpuh. Antrean mengular, bahkan cenderung liar. Bantuan dan uang tunai dibagikan satu per satu, sementara kerumunan terus menekan dari belakang.
Tak ada penjelasan rinci soal bagaimana data penerima disusun. “Khususnya yang ada di Medan,” kata Bobby singkat, tanpa membuka mekanisme seleksi. Transparansi tampak menjadi barang langka ditengah euforia pembagian.
Disisi lain, Teddy Indra Wijaya memastikan bantuan tersebut berasal dari Sekretariat Presiden. Ia juga mengungkap agenda kepala negara: Prabowo Subianto memilih Sumatra Utara sebagai lokasi malam takbiran sebelum bertolak ke Aceh untuk Salat Id.
Prabowo tiba di Lanud Soewondo, Medan, sekitar pukul 16.55 WIB setelah lepas landas dari Halim Perdanakusuma. Ia datang bersama sejumlah menteri, dari Menteri Sekretaris Negara hingga Menteri Luar Negeri, membentuk barisan elite yang menandai pentingnya momen ini.
Skema pergerakan presiden pun sarat simbol, takbiran di Sumut, salat Id di Aceh. Dua provinsi, satu pesan kehadiran negara menjangkau pinggiran.
Tapi di Medan malam itu, yang paling terasa bukan simbol. Melainkan dorong-dorongan digerbang, antrean panjang yang tak rapi, dan pertanyaan yang menggantung, bantuan ini benar-benar tepat sasaran, atau sekadar seremoni yang dibungkus gegap gempita Lebaran?
Ditengah takbir yang berkumandang, jawabannya tenggelam dalam riuh massa.(misn’t)






Discussion about this post