INformasinasional.com – Presiden Trump menyebut Iran “tidak pantas” tampil pada Piala Dunia 2026 di AS, dan pejabat Iran menyatakan timnas negaranya tidak akan berpartisipasi. Namun menurut analis, terlalu dini untuk mencoret Iran dari turnamen tersebut.
Presiden AS Donald Trump mengatakan tim nasional sepak bola Iran “dipersilakan” tampil di Piala Dunia 2026. Namun dia menilai kehadiran timnas Iran “tidak pantas” demi “keselamatan dan keamanan mereka sendiri”. Trump mengutarakan hal itu melalui platform Truth Social pada Kamis, (12/03).
Pernyataan ini muncul setelah Menteri Olahraga dan Pemuda Iran, Ahmad Donyamali, menyatakan bahwa negaranya tidak berada dalam posisi untuk berpartisipasi dalam turnamen yang digelar di AS, Kanada, dan Meksiko mulai 11 Juni nanti.
Akan tetapi, menurut wartawan BBC News Persia, Pooria Jafereh, terlalu dini untuk mencoret timnas sepakbola Iran dari Piala Dunia 2026.
Menurutnya, terlepas dari pernyataan menteri olahraga Iran, masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa tim nasional Iran akan absen dari Piala Dunia.
“Federasi Sepak Bola Republik Islam Iran pada akhirnya yang memegang keputusan final, terlepas dari apa pun yang disampaikan menteri,” kata Pooria.
Saat ini, FIFA tetap bersikeras bahwa Iran akan memainkan laga yang telah dijadwalkan melawan Selandia Baru, Belgia, dan Mesir.
Lagi pula, “jika Iran memang menolak melakukan perjalanan ke Piala Dunia 2026, konsekuensinya bisa sangat serius.”
“Situasi seperti ini pernah terjadi sebelumnya,” tulisnya.
Iran pernah menolak bertanding melawan Kuwait pada kualifikasi Piala Dunia 1982.
Keputusan itu membuat timnas Iran gagal lolos ke putaran final dan kemudian dikenai larangan tampil di Piala Dunia 1986 oleh FIFA.
Apa yang akan dilakukan FIFA?
Saat ini, FIFA kemungkinan akan menunggu, kata Pooria Jafereh.
Pertandingan play-off pada akhir Maret 2026 akan menentukan daftar final tim yang lolos, yang akan memudahkan pengambilan keputusan.
Pada saat itu, situasi konflik yang terus berkembang antara AS, Iran, dan Israel mungkin juga menjadi lebih jelas. “Saat ini, sikap Presiden Donald Trump dan para pemimpin militer Iran masih sulit dibaca,” ujarnya.
Iran dijadwalkan menghadapi Selandia Baru dan Belgia di Los Angeles masing-masing pada 15 dan 21 Juni, serta Mesir di Seattle pada 26 Juni.
Namun partisipasi mereka diragukan sejak AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran yang menewaskan pemimpin tertingginya, Ayatollah Ali Khamenei.
Sebagai balasan, Iran menembakkan rudal dan drone ke Israel serta empat negara Arab Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS—Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab.
Awal pekan ini, Presiden Fifa Gianni Infantino mengatakan Trump sempat memberitahunya bahwa Iran “dipersilakan berlaga” di putaran final musim panas ini.
Namun dalam wawancara dengan IRIB Sports Network pada Selasa (10/03), Menteri Olahraga dan Pemuda Iran, Ahmad Donyamali, menyatakan: “Mengingat pemerintah korup ini telah membunuh pemimpin kami, dalam kondisi apa pun, kami tidak memiliki situasi yang layak untuk berpartisipasi di Piala Dunia.
“Anak-anak kami tidak aman, dan kondisi untuk berpartisipasi tidak ada,” tegasnya.
Jika Iran mundur dari turnamen yang akan menjadi Piala Dunia keempat mereka secara beruntun, aturan FIFA memberi kewenangan bagi federasi untuk menunjuk pengganti, meskipun belum jelas siapa yang akan dipilih.
Dia menambahkan bahwa “selama delapan atau sembilan bulan terakhir, dua perang telah dipaksakan kepada kami dan beberapa ribu rakyat kami telah tewas dan menjadi martir. Karena itu, kami jelas tidak memiliki kemungkinan untuk berpartisipasi.”
Iran dijadwalkan tampil dalam pertandingan di Grup G Piala Dunia menghadapi Selandia Baru dan Belgia di Los Angeles, lalu Mesir di Seattle. Ini adalah penampilan Iran keempat kali secara beruntun pada putaran final Piala Dunia.
Tahun lalu, meski Amerika Serikat membombardir tiga fasilitas nuklir di Iran, negara itu tetap tidak menarik diri dari Piala Dunia. Namun, setelah eskalasi terbaru yang jauh lebih serius sejak 28 Februari, Ketua Federasi Sepak Bola Iran, Mehdi Taj, mulai meragukan partisipasi timnya.
“Dengan apa yang terjadi… dan serangan Amerika Serikat, kecil kemungkinan kami bisa menatap Piala Dunia. Tapi keputusan tetap ada di tangan para pemimpin olahraga,” ujar Mehdi Taj dalam siaran televisi Iran.
Situasi semakin rumit setelah kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang menimbulkan ketidakpastian soal arah politik negara tersebut. Menentukan apakah Iran akan bertahan di turnamen atau siapa yang berwenang mengambil keputusan, menjadi hal yang mustahil ditebak.
“Bagi Teheran, ini bukan perang singkat 12 hari atau eskalasi terbatas yang bisa dihentikan lalu dimulai kembali,” kata Dr Sanam Vakil, Direktur Program Timur Tengah dan Afrika Utara dilembaga kajian internasional Chatham House.
“Tahap konflik baru ini bersifat eksistensial, menyangkut kelangsungan rezim, dan tampaknya tidak akan berakhir dalam waktu dekat.”
FIFA, badan tertinggi sepak bola dunia, menyatakan tengah memantau perkembangan situasi.
Sejauh ini para pejabat FIFA masih memperkirakan Iran akan tetap tampil di Piala Dunia. Pada Sabtu (28/02) lalu, Sekretaris Jenderal FIFA Mattias Grafstrom menegaskan: “Fokus kami adalah memastikan Piala Dunia berlangsung aman dengan semua peserta ikut serta.”
Menurut regulasi FIFA, jika ada tim yang mundur atau dikeluarkan, FIFA berhak mengambil langkah yang dianggap perlu, termasuk mengganti dengan negara lain.
BBC Sport telah bertanya kepada FIFA di tengah spekulasi bahwa Iran bisa digantikan oleh tim dari Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC).
Dalam skenario tersebut, Irak yang masih berpeluang lolos melalui play-off akhir bulan ini atau Uni Emirat Arab, yang sebelumnya gagal lolos, difavoritkan untuk mengisi posisi kosong.
Aspek keamanan Piala Dunia 2026 jadi sorotan
Tahun lalu, Presiden AS Donald Trump menandatangani perintah eksekutif yang melarang warga asing dari 12 negara termasuk Iran masuk ke Amerika Serikat dengan alasan keamanan.
Meski para pemain dan staf pelatih Piala Dunia dikecualikan dari aturan itu, Iran sempat mengancam akan memboikot undian grup di Washington pada Desember 2025 setelah sejumlah pejabatnya ditolak permohonan visanya.
Jika Iran tetap bertanding di Piala Dunia 2026, perhatian terhadap aspek keamanan pertandingan-pertandingan Iran, termasuk rencana pusat latihan timnas Iran di Arizona selama Piala Dunia berlangsung, diperkirakan akan semakin ketat.
Trump sendiri menegaskan bahwa ia “tidak peduli” apakah Iran ikut serta dalam Piala Dunia 2026.
“Saya benar-benar tidak peduli,” kata Trump kepada Politico mengenai kemungkinan Iran tampil di turnamen.
“Saya pikir Iran adalah negara yang sudah sangat kalah. Mereka hanya bertahan dengan sisa tenaga.”
Sikap Trump di tengah gempuran ke wilayah Iran membuat aspek keamanan tidak bisa dipandang sebelah mata.
Saat Iran berkiprah pada Piala Dunia 2022 di Qatar, termasuk melawan Amerika Serikat terdapat gelombang protes besar anti-pemerintah di dalam negeri Iran.
Pada laga kedua melawan Wales, terjadi bentrokan di tribun antara suporter dengan pandangan politik yang berseberangan.
Bukan mustahil insiden serupa kembali muncul musim panas ini.
Los Angeles, kota tempat Iran dijadwalkan bermain dua kali, juga menjadi rumah bagi salah satu komunitas diaspora Iran terbesar di dunia.
“Kita berada di wilayah yang belum pernah terjadi sebelumnya: hanya tiga bulan lebih sedikit menuju Piala Dunia, sementara tuan rumah baru saja melancarkan perang agresi terhadap salah satu negara peserta,” ujar Nick McGeehan dari kelompok advokasi hak asasi manusia FairSquare.
“Jika Iran menarik timnya, sebuah kemungkinan yang sepenuhnya realistis FIFA mungkin justru merasa lega, mengingat potensi protes dan kerusuhan yang bisa terjadi.”
Meski Iran absen sekalipun, ketegangan tetap bisa meningkat.
Piala Dunia kali in bertepatan dengan perayaan 250 tahun Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat. Donald Trump diperkirakan akan tampil menonjol sebagaimana kehadirannya pada ajang Club World Cup dan Ryder Cup tahun lalu.
Konflik ini muncul hanya beberapa hari setelah para pejabat pemerintah AS diperingatkan soal potensi konsekuensi keamanan yang “berujung “malapetaka” jika 11 kota tuan rumah tidak segera mendapatkan kucuran dana.
Persiapan disebut-sebut sudah tertinggal dari jadwal.
Kekhawatiran juga semakin meningkat terkait penggunaan petugas dari badan Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) dalam ajang Piala Dunia, serta merebaknya kekerasan kartel di Meksiko, negara tetangga sekaligus tuan rumah bersama.
Hubungan Amerika Serikat dengan Kanada, tuan rumah lainnya, juga sempat terguncang akibat serangkaian tarif dagang yang diberlakukan Trump terhadap negara tersebut.
Akhir pekan lalu, Andrew Giuliani ketua satgas Piala Dunia Gedung Putih memuji serangan Trump terhadap Iran. Giuliani menulis di media sosial bahwa tindakan itu akan “membuat dunia menjadi tempat yang aman.”
Ia menambahkan, “Urusan pertandingan sepak bola kita tangani besok. Malam ini kita rayakan peluang kebebasan bagi rakyat Iran.”
Namun, konflik di Timur Tengah juga diperkirakan akan menambah sorotan terhadap Presiden FIFA Gianni Infantino, terutama terkait kedekatan hubungan yang ia bangun dengan Trump.
Seruan boikot Piala Dunia 2026
Keputusan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyerang Venezuela dan Iran menuai dukungan sekaligus kecaman. Langkah tersebut juga menambah sorotan terhadap FIFA, yang dianggap berisiko terjebak dalam politisasi setelah menjalin kedekatan dengan Trump.
Pada Januari lalu, sebanyak 27 politisi dari Partai Buruh, Liberal Demokrat, Partai Hijau, dan Plaid Cymru di UK menandatangani mosi di parlemen yang mendesak FIFA mempertimbangkan untuk mencoret AS dari kompetisi besar, termasuk Piala Dunia.
Mosi itu menegaskan ajang olahraga “tidak boleh digunakan untuk melegitimasi atau menormalisasi pelanggaran hukum internasional oleh negara kuat.”
Pada bulan yang sama, seorang pejabat Asosiasi Sepak Bola Jerman menyatakan sudah saatnya mempertimbangkan untuk memboikot Piala Dunia 2026 menyusul tindakan Trump.
Tuntutan serupa diperkirakan kembali mencuat, termasuk kemungkinan desakan dari negara-negara Teluk agar Iran dijatuhi sanksi atas serangan balasan ke wilayah mereka.
FIFA menegaskan sebagai penyelenggara, pihaknya memiliki kewajiban untuk tetap netral. Presiden FIFA, Gianni Infantino, tahun lalu menyatakan lembaganya “tidak bisa menyelesaikan masalah geopolitik,” di tengah tekanan agar menjatuhkan sanksi kepada Israel setelah laporan komisi PBB menyebut negara itu melakukan genosida terhadap warga Palestina di Gaza. Kementerian Luar Negeri Israel menolak laporan tersebut, menyebutnya “distorsi dan tidak benar.”
Tekanan terhadap FIFA bukan hal baru. Piala Dunia 2018 tetap digelar di Rusia meski negara itu mencaplok Krimea empat tahun sebelumnya.
Rusia akhirnya dilarang tampil di Piala Dunia 2022 setelah invasi ke Ukraina, menyusul penolakan sejumlah negara Eropa untuk bertanding melawan mereka. Namun Infantino belakangan menyebut sanksi itu tidak efektif dan ingin mempertimbangkan pencabutannya, sekaligus perubahan aturan FIFA untuk mencegah boikot.
Tidak ada tanda ia berniat menjatuhkan sanksi kepada AS, meski kebijakan luar negeri negara itu menuai kontroversi.(BBCNews)






Discussion about this post