Adverstorial
INformasinasional.com*
LAPANGAN Kantor Bupati Langkat, Senin (9/2/2026) pagi, tak sekadar menjadi arena apel rutin. Ditengah barisan ASN yang berdiri tegap, Bupati Langkat H Syah Afandin SH melontarkan pesan yang terdengar sederhana, memfokuskan tenaga di 30 desa wisata. Tiga puluh titik itu, katanya, adalah masa depan ekonomi daerah.
Apel gabungan yang juga dihadiri Wakil Bupati Tiorita Br Surbakti, para asisten, staf ahli, hingga pejabat struktural dan fungsional itu menjadi panggung konsolidasi. Namun, dibalik formalitas barisan dan protokol, arah kebijakan yang disampaikan Bupati terasa tegas, bahkan nyaris ultimatum bagi birokrasi yang kerap berjalan lambat.
“Fokus pada sektor yang benar-benar bisa menggerakkan ekonomi, membuka lapangan kerja, sekaligus melestarikan budaya. Itu ada disektor pariwisata, khususnya 30 desa wisata yang sudah ditetapkan,” kata Syah Afandin.

Tiga puluh desa itu, kata dia, bukan sekadar daftar diatas kertas. Ada desa dengan panorama alam, kampung budaya, jejak sejarah, hingga potensi kuliner dan wisata religi. Semua memiliki cerita. Semua punya daya tarik. Tapi tanpa kerja terarah, semuanya hanya akan menjadi potensi yang membeku.
“Setiap desa punya keunikan. Ini aset kolektif yang harus dijaga dan dikembangkan bersama,” kata Syah Afandin.
Nada optimisme Bupati disertai daftar pekerjaan rumah. Ia menekankan lima langkah strategis. Yakni kolaborasi lintas sektor, pemberdayaan masyarakat, inovasi dan branding destinasi, pembangunan infrastruktur, serta jaminan keberlanjutan program. Lima langkah yang terdengar rapi diatas kertas, tetapi menuntut kerja nyata dilapangan.
“Pemerintah bukan hanya regulator, tapi penggerak perubahan. Tiga puluh desa wisata itu tiga puluh titik harapan baru bagi perekonomian Langkat,” katanya.
Disela amanat yang penuh agenda pembangunan itu, apel juga diwarnai momen haru. Bupati bersama Wakil Bupati dan pengurus Korpri menyerahkan santunan kematian kepada 46 ahli waris anggota Korpri dengan total Rp115 juta. Bantuan itu menjadi simbol solidaritas birokrasi terhadap keluarga yang ditinggalkan.

“Kami turut berduka. Semoga almarhum dan almarhumah diampuni dosanya dan ditempatkan disurga Allah SWT,” kata Syah Afandin.
Apel juga menjadi ajang penyerahan satu unit mobil pemadam kebakaran untuk operasional Kecamatan Bahorok dan sekitarnya. Bantuan itu disebut sebagai bagian dari komitmen pemerintah daerah memperkuat kesiapsiagaan bencana, wilayah yang kerap berhadapan dengan risiko kebakaran hutan dan permukiman.
Tak hanya itu, ditengah sorotan pada sektor wisata dan pelayanan publik, Pemkab Langkat juga membawa kabar prestasi. Berdasarkan surat Arsip Nasional Republik Indonesia tertanggal 12 Januari 2026, Langkat meraih Juara I Digitalisasi Arsip 2025 dari 33 kabupaten/kota se-Sumatera Utara.

Prestasi administratif itu mungkin tak sepopuler proyek fisik atau agenda wisata. Namun bagi pemerintah daerah, penghargaan tersebut menjadi bukti bahwa modernisasi birokrasi tak sekadar jargon.
Apel pagi itu pun berakhir seperti biasa, barisan bubar, pegawai kembali kemeja kerja. Namun pesan yang ditinggalkan Bupati cukup jelas, masa depan Langkat tak lagi hanya ditentukan oleh kantor-kantor pemerintah, melainkan oleh desa-desa yang mampu menjual cerita, alam, dan budayanya kepada dunia.(INformasinasional.com/misno)






Discussion about this post