INformasinasional.com, LANGKAT — Ketika banjir datang bertubi-tubi dan infrastruktur sipil runtuh tanpa aba-aba, Tentara kembali mengambil alih panggung. Panglima Kodam I/Bukit Barisan, Mayjen TNI Hendy Antariksa, turun langsung meninjau Jembatan Aramco yang dibangun kilat di Desa Perkebunan Tanjung Beringin, Kecamatan Hinai, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, pada Rabu (24/12/2025) lalu.
Jembatan sepanjang 8,5 meter dan lebar 8 meter itu berdiri diatas sisa-sisa amukan banjir tiga pekan lalu yang memutus urat nadi warga. Dalam hitungan tujuh hari, struktur baja tipe Aramco, jembatan darurat militer terpasang. Cepat, presisi, dan fungsional. Sebuah kontras telak dengan lambannya pembangunan infrastruktur permanen yang kerap terhambat birokrasi.
“Jembatan ini kami harapkan dapat segera dimanfaatkan masyarakat untuk melancarkan aktivitas sehari-hari,” katar Hendy Antariksa Minggu (28/12/2025). Pernyataan yang terdengar normatif, tapi bermakna besar diwilayah yang sempat terisolasi dan menggantungkan hidup pada jalur darurat.
Banjir yang melanda kawasan Hinai tak sekadar merendam rumah. Ia memutus akses ekonomi, pendidikan, dan layanan kesehatan. Warga terpaksa memutar jauh, sebagian bahkan menyeberang sungai dengan risiko tinggi. Kehadiran jembatan ini menjadi penanda kembalinya denyut kehidupan, setidaknya untuk sementara.
Pembangunan Jembatan Aramco oleh jajaran Korem 022/Pantai Timur menunjukkan kembali peran TNI sebagai pemadam krisis infrastruktur didaerah rawan bencana. Namun, dibalik kecepatan kerja pasukan, terselip pertanyaan yang tak kunjung terjawab, sampai kapan solusi darurat menjadi andalan dinegeri yang saban tahun dilanda banjir?
Mayjen Hendy menegaskan bahwa jembatan ini bersifat sementara, sembari mendorong pemerintah daerah dan instansi terkait untuk segera membangun jembatan permanen. “Aramco ini solusi cepat. Tapi tentu tidak bisa selamanya,” katanya.
Langkat bukan wilayah asing bagi banjir. Kerusakan hutan resapan dihulu, alih fungsi lahan, dan tata ruang yang compang-camping telah berulang kali disebut sebagai biang keladi. Namun, setiap kali air surut, ingatan kolektif ikut menguap hingga bencana berikutnya datang.
Kini, satu jembatan baja berdiri kokoh diatas sungai yang sempat mengamuk. Ia bukan hanya penghubung dua sisi desa, tapi juga pengingat keras, negara sering kali hadir paling sigap saat krisis, namun absen dalam pencegahan.(Misno)






Discussion about this post