INformasinasional.com, Washington DC – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan melakukan serangan lebih lanjut ke Pulau Kharg di Iran. Dia juga mendesak sekutu AS mengerahkan kapal perang untuk mengamankan Selat Hormuz, jalur air yang penting bagi pasokan energi global, sementara Iran berjanji untuk mengintensifkan responsnya.
Dilansir Al-Jazeera, Minggu (15/3/2026), Trump mengatakan kepada stasiun televisi NBC News bahwa serangan AS ‘benar-benar menghancurkan’ sebagian besar pusat ekspor minyak Iran tersebut. Dia memperingatkan akan adanya serangan lebih lanjut ke pulau itu.
“Kami mungkin akan menyerangnya beberapa kali lagi hanya untuk bersenang-senang,” katanya.
Pernyataan tersebut menandai peningkatan eskalasi bagi Trump, yang sebelumnya mengatakan AS hanya menargetkan situs militer di Kharg. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan Iran akan menanggapi setiap serangan terhadap fasilitas energinya.
Araghchi mengatakan kepada saluran berita MS NOW bahwa AS menyerang Pulau Kharg dari dua lokasi di Uni Emirat Arab, yakni Ras Al-Khaimah dan sebuah tempat ‘sangat dekat dengan Dubai’.
Dia mengatakan hal itu ‘berbahaya’ dan mengatakan Iran ‘akan berusaha berhati-hati agar tidak menyerang daerah berpenduduk’ di sana. Komando Pusat AS, komando tempur militer AS yang bertanggung jawab atas operasi di Timur Tengah, menolak berkomentar tentang klaim Araghchi.
Seorang penasihat diplomatik Presiden UEA Anwar Gargash mengatakan dimedia sosial bahwa negara tersebut memiliki hak untuk membela diri tetapi ‘tetap memprioritaskan akal sehat dan logika, dan terus menahan diri’.
Korps Garda Revolusi Islam Iran mengatakan telah melakukan serangan rudal dan drone terhadap target di Israel dan tiga pangkalan AS di wilayah tersebut. Iran menyebut serangan itu sebagai putaran pertama pembalasan atas pekerja yang tewas dikawasan industri Iran.
Pada Sabtu (14/3), serangan rudal di kawasan industri kota Isfahan di Iran tengah menewaskan sedikitnya 15 orang saat para pekerja berada di dalam sebuah pabrik. Sementara itu, kemampuan Teheran untuk menghentikan pengiriman melalui Selat Hormuz, yang dilalui seperlima kargo minyak dunia, telah memicu gangguan terbesar dalam pasokan minyak global, mengguncang pasar dan pemerintah.
Perang yang dilancarkan Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada 28 Februari telah menewaskan lebih dari 2.000 orang, sebagian besar di Iran, menurut laporan dari pemerintah dan media pemerintah.(dtc)






Discussion about this post