INformasinasional.com, Langkat — Teluk Haru berubah muram. Sejak Minggu hingga Rabu petang (23–26 November 2025), hujan tanpa jeda menenggelamkan pesisir Langkat. Air naik perlahan, lalu mendadak mengganas. Desa Sekoci dan Kampung Sawah dikecamatan Besitang terendam setinggi dada orang dewasa. Kecamatan Pangkalan Susu, Babalan, Brandan Barat, Sei Lepan, hingga Gebang ikut tersapu air keruh setinggi lutut hingga satu meter.
Dijalan Lintas Sumatera (Jalinsum), deru kendaraan berubah menjadi lenguhan panjang. Rute utama dari Gebang hingga Babalan menjelma kolam raksasa. Mobil dan sepeda motor terhuyung pelan seperti makhluk kelelahan, sementara warga menunggu dengan resah, menebak-nebak kapan air mau mundur.

Tiga titik di Jalinsum lumpuh total, depan RM Putri di Tegal Rejo, kawasan Dapur MBG di Pekan Gebang, dan sekitar RSU Mahkota Bidadari Paluh Manis. Rumah-rumah ikut kemasukan banjir, memaksa warga berjaga sepanjang malam sembari memindahkan barang seadanya ketempat yang lebih tinggi.
“Tiga Hari Tiga Malam, Sekoci Tenggelam”
“Banjir terparah di Sekoci, Besitang. Tadi malam naik lagi, makin dalam. Hujan tiga hari tiga malam tanpa kasihan,” kata Edi, warga Sekoci, sambil menatap air yang menutup separuh rumahnya.

Di Kecamatan Gebang, air bahkan menyusup ke fasilitas vital. Kantor Polsek dan Koramil 12 Gebang dikepung banjir setinggi hampir satu meter, pemandangan yang jarang terjadi.
“Kantor Koramil dan TK Tunas Kartika tenggelam hampir 1 meter Pak, ini baru pertama kali seperti ini,” ungkap Batuud Koramil 12 Gebang, Serma Purba.
Sejumlah lansia di Pekan Gebang dievakuasi ke Puskesmas. “Air makin naik, kami takut lambat mengevakuasi,” ujar seorang petugas kesehatan.
Banjir Bukan Sekadar Hujan, Warga Menuding Parit PU Ditutup Pengusaha Kaya
Namun di balik derasnya hujan, warga menyodorkan cerita lain lebih pedas, lebih getir.
“Parit PU lebar 2,5 meter disamping Polsek Gebang ditutup pengusaha kaya untuk jalan keluar masuk kendaraan miliknya. Air jadi tak punya jalur kabur,” kata Usuf alias Bob, warga Lingkungan IV Pekan Gebang, Rabu siang. Dibelakangnya, puluhan warga mengangguk, sebagian mengepalkan tangan.
Warga juga menyebut gorong-gorong disimpang kolam menuju kantor kelurahan sudah lama amblas, membuat aliran air tersumbat seperti urat nadi tersedak lumpur.
“Kami berkali-kali mengadu ke Lurah Pekan Gebang, Selamat Sahri. Tapi malah dilarang melaporkan M Hatta, orang yang menutup parit itu,” kata warga lain dengan nada meninggi.
Suguhan tudingan itu memperpanjang daftar dugaan pembiaran aset publik. Jalan provinsi yang amblas, parit ditutup seenaknya, dan pemerintah yang bergerak setelah banjir menjemput.
Camat Gebang, Sofyan Tarigan, mengaku sudah turun mengamati banjir sejak pagi.
“Tadi saya sudah keliling melihat kondisi dan sudah saya laporkan ke Pak Bupati,” ujarnya singkat.
Tetapi bagi warga, langkah itu terasa terlambat. “Baru turun ketika banjir sudah menjadi laut,” sindir seorang warga yang rumahnya kemasukan air.
Mereka kini menuntut satu hal, investigasi terbuka. Siapa memberi izin menutup parit PU? Mengapa dibiarkan? Dan kapan saluran itu akan dibuka sebelum banjir berikutnya datang?
Bila parit tak dibenahi, gorong-gorong tak diperbaiki, dan pembangunan liar tak ditegur, Jalinsum Gebang akan menjadi langganan banjir setiap musim hujan. Bukan hanya lalu lintas yang tersendat, keselamatan warga terancam, dan infrastruktur provinsi kian renta.
“Ini bukan bencana alam. Ini bencana kelalaian,” tegas warga.
Hingga berita ini diturunkan Rabu petang, hujan tak juga berhenti. Awan gelap masih menggantung rendah diatas Teluk Haru, seolah memberi tanda bahwa genangan belum selesai bercerita.(Tim Reportase INformasinasional.com)






Discussion about this post