INformasinasional.com, KUALA SIMPANG, ACEH TAMIANG — Pagi 1 Syawal 1447 Hijriah disudut hunian sementara Aceh Tamiang mendadak menjadi panggung simbolik kekuasaan dan empati. Presiden Prabowo Subianto memilih takbir kemenangan bergema bukan dari istana megah, melainkan dari Masjid Darussalam dikawasan huntara, Sabtu, 21 Maret 2026.
Ditengah deretan bangunan sementara yang menjadi saksi getir kehidupan warga, Prabowo berdiri sejajar dengan sekitar 1.300 jemaah. Tak ada sekat. Tak ada protokoler berlebihan. Yang ada hanya gema takbir, tahmid, dan wajah-wajah penuh harap yang larut dalam suasana khusyuk.
Salat Id dimulai pukul 07.30 WIB, dipimpin imam Tengku Junaidi, dengan khutbah oleh Zulkhaizir. Namun yang mencuri perhatian bukan hanya jalannya ibadah, melainkan pesan diam yang tersirat, kekuasaan mencoba hadir ditengah luka.
Usai salat, Prabowo tak langsung beranjak. Ia menyalami jemaah satu per satu dalam suasana halalbihalal yang terasa hangat, nyaris tanpa jarak. Senyum dan sapaan singkat menjadi pengikat antara kepala negara dan warga yang hidup dihunian sementara.
Namun momen itu tak berhenti pada simbol. Prabowo membagikan bantuan sembako secara simbolis kepada 10 warga. Sisanya didistribusikan petugas. Gestur klasik yang selalu hadir dalam panggung-panggung kedekatan pemimpin dengan rakyat.
Tak lama, Prabowo melangkah kearea huntara. Ia masuk kesalah satu rumah warga, berbincang singkat, melihat langsung kondisi yang selama ini hanya menjadi angka dalam laporan. Dititik ini, realitas berbicara lebih keras daripada pidato.
Waktu berjalan cepat. Agenda padat menunggu.
Setelah menyapa warga dan memberi keterangan singkat kepada wartawan, Prabowo segera beranjak menuju pesawat. Lambaian tangan mengiringi langkahnya meninggalkan Aceh Tamiang, singkat, padat, dan sarat pesan.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyebut kehadiran Presiden sebagai bagian dari upaya menyapa langsung masyarakat dihari kemenangan.
“Presiden melaksanakan salat Idulfitri di Aceh Tamiang dan menyapa masyarakat. Pemerintah juga mengucapkan selamat Idulfitri, mari bersatu mencapai tujuan bersama,” katanya.
Namun dibalik rangkaian kunjungan yang tertata rapi, satu hal mengendap, seberapa jauh kehadiran singkat itu mampu menjawab persoalan panjang warga huntara?
Prabowo telah datang, salat, menyapa, dan pergi. Aceh Tamiang kembali pada sunyinya hingga menyisakan gema takbir dan harapan yang belum tentu usai.(Misno)






Discussion about this post