INformasinasional.com, JAKARTA — Nada suara Prabowo Subianto kali ini tidak tinggi, tapi pesannya menggigit. Dihadapan para jurnalis dan pakar, Presiden melontarkan ultimatum yang tak menyisakan ruang abu-abu, bersihkan diri, atau bersiap dibersihkan.
“You bersihkan dirimu atau you nanti akan dibersihkan,” kata Prabowo, dikutip dari tayangan Sekretariat Presiden, Minggu (22/3/2026).
Kalimat itu meluncur ringan, namun sarat ancaman bagi siapa pun dilingkar kekuasaan yang masih bermain diwilayah abu-abu.
Pesan itu bukan sekadar retorika. Prabowo mengklaim, sebagian pembantunya langsung bergerak. Ia menunjuk sosok Dody Hanggodo yang dikenal berperawakan tenang, namun disebut tak ragu menindak tegas anak buahnya.
“Kalau mau main-main, dia pecat dua dirjen,” kata Prabowo, seolah ingin menegaskan, kelembutan bukan berarti kompromi.
Dibalik peringatan itu, terselip agenda yang lebih besar, membongkar praktik lama yang menggerogoti birokrasi. Prabowo menyinggung kebiasaan “menipu”, penyelundupan, hingga under-invoicing, penyakit kronis yang selama ini seakan kebal disentuh. “Pelan-pelan kita benahi,” katanya, setengah janji, setengah peringatan.
Ia bahkan membawa angka sebagai amunisi. Dalam tiga bulan pertama tahun ini, penerimaan pajak disebut melonjak signifikan, sekitar 30 persen. Prabowo mengaitkannya dengan upaya pembersihan ditubuh Direktorat Jenderal Pajak. Suatu klaim yang, jika konsisten, bisa menjadi legitimasi paling konkret dari agenda bersih-bersih itu.
Namun Presiden belum berhenti. Sorotan berikutnya mengarah kesektor yang selama ini kerap diselimuti isu, Bea dan Cukai. “Ini sekarang Bea Cukai harus kita bersihkan juga,” katanya.
Pernyataan itu terdengar seperti alarm, bahwa gelombang penertiban belum mencapai puncaknya.
Diujung pernyataannya, Prabowo kembali ketema yang lebih luas, supremasi hukum dan tata kelola. Ia mengingatkan, diluar gedung-gedung kementerian, masih banyak rakyat hidup dalam keterbatasan. Disanalah urgensi reformasi menemukan pembenarannya, bahwa setiap kebocoran, setiap permainan, pada akhirnya dibayar oleh mereka yang paling lemah. “Kalau ini kita berdayakan, we can empower them with money,” kata Prabowo.
Kalimat itu terdengar optimistis. Tapi ultimatum diawal tadi memastikan satu hal, optimisme itu kini datang dengan konsekuensi. Diera Prabowo, bersih bukan lagi pilihan, melainkan syarat bertahan.(Misn’t)






Discussion about this post