INformasinasional.com, ACEH TAMIANG — Waktu seperti berhenti di sebatang pohon di Desa Pante Perlak, Kecamatan Sekrak, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh. Disana, sosok jasad berdiri tegak, membisu, mengering, seolah menjadi saksi bisu amukan banjir yang pernah meluluhlantakkan wilayah itu pada November 2025.
Penemuan itu bukan oleh tim pencari, bukan pula aparat. Ia ditemukan secara tak sengaja oleh seorang bocah penggembala lembu, Minggu, 5 April 2026. Kepolosan anak itu justru membuka tabir duka yang lama terkubur.
Saat menggiring ternaknya, sang bocah tiba-tiba tersentak. Kepalanya menyenggol sesuatu yang keras. Bukan ranting. Bukan pula batang kayu. Itu kaki manusia. Jeritan pecah di tengah sunyi ladang.
“Anak itu menjerit ketakutan. Dia lihat kaki manusia tergantung. Kami semua langsung bergegas ke lokasi,” ujar Panut, warga Desa Pante Perlak, Senin (6/4/2026).
Yang mereka temukan membuat bulu kuduk berdiri.
Sesosok jasad diduga Wak Cem, warga setempat yang hilang sejak banjir besar menerjang, dalam kondisi mengering, nyaris tinggal tulang yang dibungkus kulit. Tubuhnya masih utuh, berdiri tegak secara tak wajar. Lehernya tersangkut dicabang pohon, seolah waktu membekukannya didetik terakhir kehidupan.
Ia masih mengenakan baju putih, lusuh, setengah daster. Tak ada lagi suara, tak ada lagi gerak, hanya sunyi yang menggantung bersama tubuhnya.
“Wak Cem sebelumnya dilaporkan hilang saat banjir bandang menerjang kawasan itu beberapa bulan lalu. Upaya pencarian sempat dilakukan, namun tak membuahkan hasil. Hingga akhirnya, alam sendiri yang “mengembalikan” jasadnya dalam kondisi yang menyayat nurani,” ungkap warga Sekerak.
Peristiwa ini bukan sekadar penemuan jasad. Ia adalah pengingat yang getir, bahwa bencana tak hanya merenggut nyawa, tapi juga menyisakan cerita pilu yang bisa muncul kapan saja, ditempat yang tak terduga.
Dan di Desa Pante Perlak, satu ranting pohon kini menyimpan kisah yang tak akan mudah dilupakan.*
Editor: Misno






Discussion about this post