INformasinasional.com, Bulukumba — Ditengah laju pembangunan yang terus menulis wajah baru kota, ada satu halaman lama yang nyaris terlipat dan terlupakan. Diantara berdirinya bangunan-bangunan modern seperti Gedung Pinisi dan Gedung Ammatoa, sebuah struktur tua tetap bertahan dalam diam, menyimpan gema masa lalu yang perlahan memudar.
Gedung Sawerigading, yang dulu menjadi pusat denyut kehidupan sosial dan pemerintahan di Bulukumba, kini berdiri dalam kondisi memprihatinkan. Pantauan di lokasi menunjukkan halaman gedung dipenuhi semak belukar yang tumbuh liar, menjalar hingga menutup sebagian akses masuk. Seolah alam perlahan mengambil kembali ruang yang pernah riuh oleh manusia.
Dindingnya kusam, tergerus waktu. Cat yang dahulu mungkin pernah bersinar kini mengelupas, menyisakan tekstur rapuh yang bercerita tentang usia dan pengabaian. Dibeberapa sudut, kerusakan tampak jelas, retakan yang bukan hanya membelah tembok, tetapi juga kenangan yang pernah terpatri didalamnya.
Tak ada lagi suara tawa, tak ada lagi derap langkah tamu undangan. Gedung itu kini hanya menyimpan sunyi-sunyi yang panjang, sunyi yang dalam.
Berada di Kelurahan Terang-Terang, Kecamatan Ujungbulu, Gedung Sawerigading pernah menjadi jantung aktivitas masyarakat. Disanalah berbagai agenda penting berlangsung, dari acara resmi pemerintahan, pertemuan warga, hingga momen-momen sakral seperti pernikahan dan tasyakuran pendidikan.
Bangunan ini bukan sekadar ruang fisik. Ia adalah saksi kebersamaan, tempat di mana cerita-cerita kehidupan saling bersilang. Dibawah atapnya, keputusan diambil, harapan dirayakan, dan hubungan sosial dipererat.
Kini, semua itu tinggal bayangan, seperti gema yang masih terdengar, tetapi tak lagi terlihat sumbernya.
Kondisi Gedung Sawerigading memantik keprihatinan warga sekitar. Mereka mengenang masa ketika gedung itu menjadi pusat keramaian, sekaligus menyayangkan keadaannya yang kini terbengkalai.
“Dulu di sini sering ada acara besar, ramai sekali. Sekarang malah kosong dan seperti tidak diperhatikan,” ujar seorang warga yang enggan disebutkan namanya, Minggu (4/4/2026).
Sulfikar, warga Kecamatan Ujungbulu, juga menyimpan kenangan personal yang tak mudah dilupakan. Baginya, gedung itu bukan sekadar bangunan, melainkan bagian dari perjalanan hidup keluarganya.
“Gedung ini sangat berkesan bagi keluarga kami. Pernikahan anak pertama saya dulu digelar disini. Sayang sekali sekarang terbengkalai, padahal bisa difungsikan kembali kalau ada perhatian,” tuturnya.
Hingga kini, belum ada kejelasan terkait rencana revitalisasi atau pemanfaatan kembali Gedung Sawerigading. Di tengah geliat pembangunan yang kian pesat di Bulukumba, bangunan ini justru tertinggal, seperti cerita lama yang tak lagi dibacakan.
Padahal, jika dikelola dengan baik, gedung ini memiliki potensi besar untuk kembali menjadi ruang publik yang hidup—tempat masyarakat berkumpul, berbagi, dan merawat kebersamaan.
Kisah Gedung Sawerigading adalah pengingat sunyi, bahwa pembangunan bukan hanya tentang mendirikan yang baru, tetapi juga menjaga yang lama agar tetap bernyawa.
Kini, gedung itu menunggu, bukan sekadar untuk diperbaiki, tetapi untuk dihidupkan kembali. Sebab di balik tembok yang retak dan halaman yang ditumbuhi semak, masih ada cerita yang ingin pulang.
Reporter: Sapriaris






Discussion about this post