INformasinasional.com, Sabang — Derasnya arus informasi yang kian tak terbendung, Imam Besar Masjid Al Falah Gampong Ujong Kareung, Kota Sabang, Tgk Muchtar Andhika, mengingatkan masyarakat agar tidak menanggalkan nilai-nilai agama saat berselancar dimedia sosial.
Dalam penyampaiannya di Masjid Al Falah, Jumat (17/4/2026), Tgk Muchtar menegaskan bahwa media sosial sejatinya adalah ruang netral yang bisa menjadi ladang kebaikan, namun juga mudah berubah menjadi sumber keretakan bila disalahgunakan.
“Silakan bermedia sosial, namun tetap harus berpijak pada anjuran agama masing-masing,” kata dengan nada tenang, namun sarat makna.
Ia menggarisbawahi bahaya laten dari praktik-praktik digital yang kian marak, fitnah, ujaran kebencian, hoaks, hingga adu domba. Menurutnya, semua agama termasuk Islam secara tegas melarang tindakan-tindakan tersebut karena berpotensi merusak tatanan sosial dan memantik konflik.
“Tidak ada ajaran agama yang membenarkan penyebaran kebencian atau provokasi. Ini bukan sekadar pelanggaran etika, tapi juga ancaman nyata bagi persatuan,” tegasnya.
Lebih jauh, Tgk Muchtar menyoroti pentingnya menjaga adab, terutama bagi kaum perempuan dalam menggunakan media sosial. Ia mengingatkan agar tidak mengunggah konten yang mempertontonkan aurat atau bersifat vulgar, karena hal itu bertentangan dengan nilai-nilai Islam.
“Perempuan, khususnya umat Islam, perlu lebih berhati-hati. Jangan sampai media sosial justru menjadi ruang yang merendahkan martabat diri,” katanya.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa tidak ada larangan bagi perempuan untuk memanfaatkan media sosial sebagai sarana komunikasi, sosialisasi, maupun mempererat silaturahmi. Yang menjadi garis batas, menurutnya, adalah adab dan kendali diri.
Dalam pandangannya, lunturnya kontrol diri diruang digital kerap menjadi pemicu konflik domestik, mulai dari perselisihan rumah tangga hingga perceraian. Interaksi yang tak terjaga, termasuk komunikasi berlebihan dengan lawan jenis, disebutnya dapat membuka celah persoalan yang lebih besar.
“Media sosial itu alat. Dampaknya bergantung pada bagaimana kita menggunakannya. Bijaklah, karena yang dipertaruhkan bukan hanya diri sendiri, tetapi juga keutuhan keluarga,” katanya lagi.
Pesan itu terasa lembut diucapkan, namun tajam menghunjam: diera digital, iman dan etika tak boleh tertinggal dibelakang layar.*
Editor: Misno






Discussion about this post