INformasinasional.com, Bulukumba — Riuh dugaan korupsi pembangunan Pasar Sentral Bulukumba belum juga menemukan titik hening. Kritik masyarakat, aksi demonstrasi, dan sorotan terhadap aparat penegak hukum.
Ketua Umum Lembaga Panrita Bhinneka Bersatu (LPBB), Harianto Syam, menyampaikan sikap yang tidak tergesa: ia memilih menimbang, bukan menghakimi.
“Saya masih butuh pemahaman mendalam,” ujar pria yang akrab disapa Anto Harlay itu, saat berbicara kepada awak media, Selasa, (28/04).
Kalimatnya terdengar sederhana, namun memuat kehati-hatian seorang aktivis yang menolak terjebak dalam pusaran opini tanpa dasar.
Anto Harlay menegaskan bahwa dirinya mengikuti perkembangan kasus dugaan korupsi Pasar Sentral Bulukumba melalui jejak audiens, klarifikasi, serta observasi dari berbagai narasumber.
Namun ia mengakui tidak secara langsung masuk pada klarifikasi resmi pemerintah, melainkan lebih menyoroti momentum krusial yang ia kenang pada 31 Maret 2026, hari yang menyisakan pertanyaan: apakah sudah ada tersangka, atau belum?
Dalam pengamatannya, terdapat perdebatan angka yang mencuat kepublik. Sebagian pihak menyebut kerugian negara diatas Rp50 juta dapat langsung diproses pidana, sementara lainnya menyebut angka dibawah Rp200 juta masih menjadi perdebatan. Bagi Anto, tarik-menarik angka ini belum cukup menjadi pijakan kesimpulan.
“Saya belajar dari jejak digital perkara korupsi sebelumnya. Maka kesimpulan saya masih membutuhkan pendalaman khusus,” ungkapnya.
Antara Kritik Publik dan Wibawa Institusi
Di tengah derasnya kritik, Anto memilih berdiri digaris yang tidak ekstrem. Ia tidak membantah suara pengkritik aksi
demonstrasi, juga tidak menafikan langkah pihak tindak pidana korupsi (Tipikor) kejaksaan.
Namun ia mengingatkan satu hal penting: jangan sampai kebenaran ditundukkan oleh kebisingan opini.
“Jangan sampai kebenaran ditaklukkan pada kritikan netizen yang dapat mencoreng kecerdasan maupun jabatan institusi,” tegasnya.
Bagi Anto Harlay, menjadi aktivis bukan hanya soal keberanian bersuara, tetapi juga kecermatan dalam menjaga situasi melalui pemahaman administrasi dan aturan hukum.
Ia mengaku selama ini lebih menekuni aspek ketentuan undang-undang dibandingkan terlibat langsung dalam dinamika politik pemerintahan setempat.
Setelah menyelesaikan observasinya, LPBB bersama jejaring organisasi Cipayung yang tergabung dalam KKRB bersiap mengambil langkah formal. Mereka berencana mengajukan audiensi ke Komisi I DPRD Bulukumba, serta menyurati Komisi Kejaksaan untuk meminta keterbukaan informasi atas hasil audiensi sebelumnya dengan Kejaksaan Negeri Bulukumba.
Tak berhenti di situ, surat juga akan diarahkan kepada Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus). Jika jawaban yang diterima masih dianggap belum memadai, langkah berikutnya adalah membawa persoalan ini ke Komisi III DPR RI guna meminta penjelasan komprehensif terkait mekanisme penanganan tindak pidana korupsi.
“Yang saya lakukan ini bertujuan menjadi proporsionalitas ilmu pengetahuan, baik bagi masyarakat maupun pemerintah,” jelas Anto Harlay.
Diluar pernyataan resminya, Anto juga sempat menuliskan refleksi personal melalui akun media sosialnya. Ia menggambarkan suasana demonstrasi pada 31 Maret 2026 sebagai momen penuh ketegangan, api yang menyala dari lingkaran ban bekas, amarah yang mengental, dan desakan publik yang menuntut jawaban pasti.
Spanduk-spanduk yang terbentang didepan gedung berlantai seakan menjadi saksi bisu, menampung keluh kesah para pengkritik yang menagih janji.
Narasi itu bukan sekadar catatan peristiwa, melainkan potret emosi kolektif masyarakat yang menunggu kejelasan.
Kasus dugaan korupsi Pasar Sentral Bulukumba kini berada di persimpangan antara opini publik dan proses hukum. Di satu sisi, tekanan masyarakat terus menguat. Disisi lain, prosedur hukum menuntut kehati-hatian.
Ditengah dua arus itu, sikap Harianto Syam menjadi semacam penyeimbang, bahwa dalam setiap kegaduhan, masih ada ruang untuk berpikir jernih, menimbang data, dan mencari kebenaran yang tidak tergesa-gesa.
Dan mungkin, seperti yang tersirat dalam kata-katanya, kebenaran tidak selalu lahir dari suara paling keras, tetapi dari proses yang paling teliti.
Reporter: Sapriaris






Discussion about this post