INformasinasional.com, KARO — Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) kembali diterpa persoalan. Ratusan siswa dari sedikitnya lima sekolah di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara, diduga mengalami keracunan setelah menyantap makanan MBG, Kamis (13/8/2026).
Kalangan siswa mengalami sejumlah gejala, mulai dari mulut terasa gatal dan getir, gatal pada kulit hingga sesak napas. Mereka kemudian dievakuasi dan mendapat penanganan medis disejumlah fasilitas kesehatan.
Kepala Cabang Dinas Pendidikan Sumut Wilayah IV, Zulkarnain Barus, membenarkan peristiwa tersebut. Menurutnya, gejala mulai muncul tidak lama setelah para siswa menyantap menu MBG.
“Gejala awal itu langsung mulutnya gatal-gatal, getir gitu, baru ada yang kekulitnya gatal dan, apa namanya, sesak,” kata Zulkarnain, Kamis (13/8/2026).
Zulkarnain menjelaskan, menu MBG yang dibagikan kepada para siswa terdiri atas sayur kol, wortel dan gulai ikan dencis.
Ia menyebut ikan dencis sebagai salah satu dugaan sementara yang perlu ditelusuri lebih lanjut. Namun, penyebab pasti kejadian tersebut belum dapat dipastikan dan masih menunggu pemeriksaan.
“Kalau menunya tadi saya lihat itu, sayurnya sayur kol, wortel sama kol, kemudian ikannya dencis, gulai. Diperkirakan itu dari ikan dencis, itu perkiraan sementara,” katanya.

Berdasarkan data sementara, sebanyak 269 siswa tingkat SMA dan SMK dilaporkan mengalami gejala tersebut. Mereka berasal dari tiga sekolah, yakni SMAN 1 Berastagi sebanyak 204 siswa, SMA Swasta Bersama 25 siswa dan SMK Swasta Bersama 40 siswa.
Namun, angka tersebut masih bersifat sementara karena pendataan terhadap siswa terdampak masih berlangsung.
Persoalan juga dilaporkan terjadi ditingkat SMP. Dua sekolah, yakni SMP Negeri 3 Kabanjahe dan SMP Swasta Bersama, turut dilaporkan mengalami kejadian serupa.
Kelima sekolah tersebut disebut menerima makanan dari satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG yang dikelola oleh Kodim. “SMP pun ada karena dapurnya sama, punya Kodim, tapi data siswanya belum bisa dapat kalau yang SMP,” kata Zulkarnain.
Siswa Dievakuasi ke Empat Rumah Sakit
Ratusan siswa yang mengalami gejala kemudian dievakuasi keempat rumah sakit untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis.
Zulkarnain mengatakan kondisi para siswa secara umum disebut stabil. Meski demikian, terdapat siswa yang mengalami gejala lebih berat berupa sesak napas.
“Sebenarnya kalau kondisinya stabil semua di rumah sakit, cuma karena panik saja tadi diawal,” tuturnya.
Kejadian tersebut bermula ketika sejumlah siswa di SMAN 1 Berastagi dilaporkan mengalami keluhan setelah menyantap makanan MBG. Informasi tersebut kemudian berkembang setelah siswa dari sekolah lain yang menerima makanan dari dapur yang sama juga mengalami gejala serupa.
BGN Turun ke Karo.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Regional Sumut, Agung Kurniawan, mengaku telah menerima informasi mengenai dugaan keracunan tersebut.
Agung mengatakan dirinya tengah dalam perjalanan dari Medan menuju Kabupaten Karo untuk mengecek langsung kondisi siswa sekaligus memastikan fakta di lapangan.
“Informasinya seperti itu, tapi ini kita sedang menuju kesana untuk cek keadaan sebetulnya,” kata Agung.
Ia belum dapat memastikan jumlah keseluruhan siswa yang mengalami gejala. Menurutnya, data valid harus diperoleh dari rumah sakit maupun puskesmas yang menangani para siswa.
“Nanti kalau sudah ada data riil, data riil harus kita lihat jumlah di rumah sakit atau puskesmas,” katanya.
Dugaan bahwa gulai ikan dencis menjadi sumber masalah belum dapat dinyatakan sebagai kesimpulan. Pemeriksaan terhadap makanan, sampel, kondisi siswa dan faktor lain diperlukan untuk memastikan penyebab sebenarnya.
Peristiwa ini menjadi sorotan serius karena program MBG ditujukan untuk memenuhi kebutuhan gizi peserta didik. Ketika makanan yang seharusnya menjadi sumber nutrisi justru diduga membuat siswa sakit, aspek keamanan pangan, higienitas dapur, kualitas bahan baku hingga proses distribusi menjadi hal yang tak boleh luput dari pemeriksaan.
Pemerintah dan pengelola MBG kini dituntut bergerak cepat, bukan hanya memastikan seluruh siswa mendapatkan penanganan medis, tetapi juga mengungkap secara terang penyebab kejadian tersebut.
Sebab, keberhasilan program MBG bukan semata dihitung dari berapa banyak makanan yang dibagikan, tetapi juga dari seberapa aman makanan itu dikonsumsi.(Misno)
Editor: Ardiansyah






Discussion about this post