INformasinasional.com, ACEH — Hujan berintensitas tinggi kembali memicu bencana hidrometeorologi disejumlah wilayah Aceh. Banjir dan longsor menerjang Kabupaten Aceh Tenggara dan Gayo Lues pada penghujung September 2026, merendam permukiman, merusak infrastruktur hingga memutus akses transportasi warga.
Di Gayo Lues, sedikitnya 33 kepala keluarga (KK) di Desa Pasir, Kecamatan Tripe Jaya, terisolasi setelah jembatan gantung yang menjadi akses penghubung warga putus diterjang derasnya arus sungai. Bencana juga merusak sejumlah ruas jalan dan memicu longsor dibeberapa titik.
Sementara di Aceh Tenggara, luapan Sungai Lawe Kisam dan Lawe Kinga membawa material lumpur, batu serta kayu hingga masuk kekawasan permukiman. Banjir juga mengganggu akses jalan nasional, termasuk kawasan Jembatan Kuning I di Desa Kuning, Kecamatan Bambel.
Bencana di Gayo Lues mulai terjadi sejak Kamis, 24 September 2026, setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut secara terus-menerus. Kondisi itu meningkatkan debit sejumlah sungai dan memicu banjir serta longsor di sejumlah kecamatan.
Data BPBD Gayo Lues menyebutkan bencana meluas hingga sedikitnya tujuh kecamatan, yakni Blangkejeren, Pining, Pantan Cuaca, Dabun Gelang, Tripe Jaya, Blangjerango dan Rikit Gaib. Dampaknya tidak hanya berupa genangan. Sejumlah akses transportasi mengalami kerusakan, sementara beberapa titik dilanda longsor.
Di Desa Pasir, Kecamatan Tripe Jaya, jembatan gantung putus sehingga puluhan keluarga kehilangan akses darat. Kondisi tersebut membuat 33 KK terisolasi diseberang sungai.
Kerusakan juga dilaporkan terjadi diakses jalan Desa Ketukah, Kecamatan Blangjerango, serta jalan utama Desa Remukut, Kecamatan Pantan Cuaca. Jalan darurat Kuning Kurnia-Remukut turut terputus.
Longsor juga terjadi di Desa Leme pada jalur Blangkejeren-Rikit Gaib. Sementara di Desa Cempa, Kecamatan Blangkejeren, longsor menyebabkan kerusakan pada jembatan.
Meski kerusakan infrastruktur cukup luas, hingga laporan terakhir tidak terdapat korban jiwa maupun laporan pengungsi akibat bencana tersebut.
Tim penanggulangan bencana masih melakukan pemantauan disejumlah lokasi rawan.
Terputusnya jembatan membuat warga Desa Pasir harus menghadapi kondisi sulit. Akses penyeberangan normal belum memungkinkan karena arus sungai masih deras. BPBD Gayo Lues kemudian mengerahkan Tim Reaksi Cepat (TRC) dengan menggunakan perahu karet untuk membantu warga yang terisolasi.
Pada Selasa, 29 September 2026, petugas bahkan membantu menyeberangkan anak-anak yang hendak berangkat sekolah. Langkah tersebut dilakukan agar aktivitas pendidikan tetap berjalan meskipun akses utama desa terputus. Evakuasi dan penyeberangan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan keselamatan warga serta kondisi arus sungai.
Kepala Pelaksana BPBD Gayo Lues, Muhaimini ST MEc Dev, mengatakan pihaknya telah menurunkan personel kelokasi untuk membantu masyarakat yang masih berada di seberang sungai.
“Tim Reaksi Cepat sudah kita turunkan ke lokasi untuk membantu warga masyarakat Desa Pasir yang terisolasi karena jembatan sempat terputus akibat banjir,” kata Muhaimini,
Menurutnya, penggunaan perahu karet menjadi pilihan karena derasnya arus sungai membuat penyeberangan secara normal belum aman.
Petugas juga dilengkapi peralatan keselamatan untuk meminimalkan risiko selama proses penyeberangan.
Sebagian Warga Dipindahkan ke Huntara
Pemerintah telah menyediakan hunian sementara (huntara) bagi warga terdampak. Sebagian warga telah mengikuti arahan untuk berpindah kelokasi yang lebih aman.
Namun, sebagian warga lainnya masih memilih bertahan di seberang sungai meski jembatan penghubung telah putus.
Pemerintah tetap memberikan Dana Tunggu Hunian (DTH) kepada warga yang memilih tidak menempati huntara.
Muhaimini memastikan BPBD Gayo Lues akan terus memantau kondisi warga yang masih berada dilokasi tersebut. Proses evakuasi akan dilakukan secara bertahap dengan menyesuaikan kondisi lapangan dan perkembangan arus sungai.
“Kami tetap berupaya semaksimal mungkin membantu warga yang sedang mengalami kesulitan dengan peralatan yang telah disiapkan,” katanya.
Bencana serupa terjadi di Kabupaten Aceh Tenggara. Hujan deras meningkatkan debit Sungai Lawe Kisam dan Lawe Kinga hingga meluap dan menerjang sejumlah wilayah.
Pada 24 September, banjir membawa material lumpur dan kayu dengan ketebalan sekitar 35 hingga 45 sentimeter hingga menutup badan jalan di sekitar Jembatan Kuning I.
Jalan nasional sempat tidak dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat dan menyebabkan antrean kendaraan hingga sekitar dua kilometer.
Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh kemudian melakukan penanganan dilapangan. Pada Jumat, 25 September, akses jalan nasional tersebut dilaporkan sudah kembali fungsional.
Banjir juga berdampak terhadap sejumlah desa di Kecamatan Lawe Sumur, Bukit Tusam, Bambel, Ketambe, Babussalam, Darul Hasanah dan Lawe Bulan.
Sebelumnya, banjir bandang juga menerjang sejumlah wilayah Aceh Tenggara dan membawa material batu serta kayu hingga masuk kerumah warga. Kondisi tersebut menunjukkan berulangnya ancaman banjir ketika curah hujan meningkat.
Rangkaian bencana di Gayo Lues dan Aceh Tenggara memperlihatkan bahwa persoalan tidak berhenti ketika genangan mulai surut. Kerusakan jembatan dan jalan justru meninggalkan persoalan baru bagi masyarakat yang menggantungkan aktivitas sehari-hari pada akses tersebut.
Di Gayo Lues, puluhan keluarga masih menghadapi keterbatasan akses setelah jembatan penghubung putus. Di Aceh Tenggara, material banjir sempat melumpuhkan ruas jalan nasional yang menjadi jalur penting mobilitas masyarakat.
Pemerintah daerah melalui BPBD terus melakukan pemantauan dan penanganan di titik terdampak.
Warga yang tinggal di bantaran sungai maupun kawasan rawan longsor juga diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika hujan berintensitas tinggi kembali mengguyur wilayah pegunungan Aceh.
Banjir dapat kembali terjadi ketika debit sungai meningkat, sementara kondisi tanah yang jenuh air juga meningkatkan risiko longsor.
Karena itu, masyarakat diminta segera mengikuti arahan petugas apabila kondisi di sekitar permukiman mulai menunjukkan tanda-tanda membahayakan.*
Editor: Ardiansyah






Discussion about this post