INformasinasional.com, BELAWAN– Pelabuhan Bandar Deli, Belawan, Sumatera Utara, menjadi panggung pengungkapan dugaan penyelundupan narkoba jaringan internasional. Ada 2,2 ton narkotika, terdiri atas sabu-sabu dan ketamine HCL, dipamerkan dalam konferensi pers gabungan aparat penegak hukum, Jumat (23/10/2026).
Pengungkapan ini bermula dari penyergapan kapal tanker MT Global 168 di Selat Malaka. Kapal tersebut kemudian dibawa dan disandarkan di Pelabuhan Bandar Deli, Belawan, untuk kepentingan pemeriksaan dan pengembangan penyidikan.
Konferensi pers diterminal penumpang Bandar Deli itu dihadiri Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto, Kepala BNN RI, serta sejumlah pejabat pusat dan daerah. Operasi tersebut melibatkan Dittipid Narkoba Bareskrim Polri, BNN RI, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, unsur kepolisian perairan, serta Polda Sumatera Utara.
Berdasarkan keterangan yang disampaikan dalam konferensi pers, barang bukti yang diungkap terdiri atas sekitar 1,1 ton sabu-sabu dan 1,16 ton ketamine HCL. Totalnya mencapai sekitar 2,26 ton, yang dalam pemberitaan dibulatkan menjadi 2,2 ton.
Satu Tersangka WN Taiwan, Tujuh Awak Kapal Masih Saksi
Dalam pengungkapan tersebut, petugas mengamankan delapan awak kapal, terdiri atas tujuh warga negara Indonesia dan seorang warga negara Taiwan.
Satu orang berinisial YCY (42), warga negara Taiwan yang disebut berperan sebagai manajer kapal MT Global 168 sekaligus pengendali pengiriman barang, ditetapkan sebagai tersangka. Sementara itu, tujuh awak kapal lainnya masih berstatus saksi.
Kapolri menjelaskan, aparat telah memantau pergerakan kapal berdasarkan analisis dan penyelidikan bersama sejak 14 Oktober 2026. Kapal tersebut tiba di Belawan pada Rabu (21/10/2026), sebelum dilakukan pemeriksaan terhadap awak kapal dan penggeledahan.
Dari hasil penggeledahan, petugas menemukan 58 karung berwarna hijau berisi ketamine HCL dengan berat sekitar 1,16 ton. Barang tersebut disimpan diruang pompa atau pump room kapal.
Selain narkotika, petugas turut mengamankan 14 unit alat komunikasi yang diduga berkaitan dengan aktivitas di kapal tersebut.
“Operasi ini merupakan wujud nyata komitmen negara dalam melindungi masyarakat Indonesia dari ancaman narkoba, khususnya generasi muda,” demikian penegasan Kapolri dalam keterangannya.
Ia menyebut, operasi gabungan tersebut sejalan dengan Asta Cita Presiden RI dalam upaya melindungi masyarakat dari peredaran narkotika dan bahan berbahaya.
Pengungkapan di Belawan tidak berhenti pada penyitaan barang bukti dan penetapan tersangka. Aparat juga dijadwalkan melanjutkan konferensi pers dilokasi kedua, yakni Ruko Toko Muda Rezeki, Jalan Dayah Tanoh, Kecamatan Mutiara Timur, Kabupaten Pidie, Aceh, pada pukul 13.30 WIB.
Lokasi tersebut diduga berkaitan dengan gudang atau jalur distribusi jaringan yang tengah diselidiki. Dugaan keterkaitan itu masih memerlukan pembuktian melalui proses penyidikan.
Pengembangan ke Aceh menjadi bagian penting untuk menelusuri asal-usul barang, jalur pengiriman, pihak yang mengendalikan distribusi, serta kemungkinan keterlibatan jaringan lain. Namun, keterkaitan setiap pihak harus didasarkan pada alat bukti dan hasil penyidikan resmi.
Ditengah pengungkapan narkoba dalam jumlah besar tersebut, sejumlah warga Belawan menyambut positif langkah aparat penegak hukum. Mereka mengapresiasi operasi gabungan yang berhasil menggagalkan peredaran narkotika melalui jalur laut. Belawan merupakan kawasan pelabuhan strategis di Sumatera Utara.
Pengungkapan ini kembali menyoroti pentingnya pengawasan perairan dan pemeriksaan ketat terhadap kapal yang diduga digunakan dalam aktivitas penyelundupan lintas negara.
Hadir dalam konferensi pers tersebut Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution, Kapolda Sumut Irjen Pol Sonny Irawan, Pangdam I/Bukit Barisan Mayjen Hendy Antariksa, Ketua DPRD Sumut, Wali Kota Medan, Kapolrestabes Medan, Kapolres Pelabuhan Belawan, serta Komandan Kodaeral I Laksamana Muda TNI Deny Septiana.
Turut hadir Direktur Jenderal Bea dan Cukai Letjen TNI Purnawirawan Djaka Budi Utama, bersama tokoh masyarakat, pemuda, dan tokoh agama.
Pengungkapan ini menjadi langkah awal untuk membongkar lebih jauh dugaan jaringan narkoba internasional yang memanfaatkan jalur laut. Masyarakat kini menanti pengembangan penyidikan, terutama untuk mengungkap asal barang, tujuan pengiriman, serta pihak-pihak yang diduga berada di balik distribusi narkotika tersebut.(misn’t)
Editor: Ardiansyah






Discussion about this post